Gelombang pengungsian masif mulai terlihat di Iran menyusul rentetan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, setidaknya 300 warga Iran telah tiba di Provinsi Balochistan, Pakistan, mencari perlindungan dari konflik yang memanas. Informasi ini, dilansir dari BBC pada Selasa (3/3/2026), menyoroti dampak kemanusiaan dari eskalasi tersebut.
Provinsi Balochistan, yang menjadi tujuan utama para pengungsi ini, merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Iran. Wilayah ini sendiri memiliki sejarah panjang konflik dan dikenal sebagai sarang bagi berbagai kelompok separatis yang telah melancarkan pemberontakan selama beberapa dekade, menambah tantangan bagi para pencari suaka.

Di sisi lain, situasi ini menempatkan Pakistan dalam posisi yang rumit. Para pemimpin negara itu tengah berupaya menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat, bahkan sempat menominasikan Presiden Trump untuk Nobel Perdamaian pada tahun sebelumnya, mengindikasikan kedekatan hubungan. Namun, sentimen publik di Pakistan terbagi. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Sunni, terdapat komunitas Syiah yang cukup besar di negara tersebut yang secara tegas menentang segala bentuk intervensi militer di Iran.
Serangan terbaru yang dilaporkan semakin memperparah situasi adalah gempuran Israel terhadap Ibu Kota Iran, Teheran. Ledakan-ledakan dilaporkan menggema di langit Teheran, dengan Israel mengklaim targetnya adalah seorang komandan senior Republik Islam Iran, meski identitas spesifiknya tidak diungkapkan. Dampak kemanusiaan dari gelombang serangan yang dilancarkan AS dan Israel ini sangat memprihatinkan. Bulan Sabit Merah Iran telah melaporkan bahwa lebih dari 780 orang tewas di berbagai wilayah Iran sejak rentetan serangan dimulai pada Sabtu (28/2) waktu setempat, menggarisbawahi beratnya krisis yang sedang berlangsung.

