Jakarta – Internationalmedia.co.id melaporkan, harapan gencatan senjata di Gaza kembali pupus setelah serangkaian serangan udara Israel menghantam wilayah tersebut. Jumlah korban tewas terus bertambah, kini mencapai 30 orang, memicu kecaman internasional dan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Basal, mengungkapkan bahwa tim penyelamat masih berjuang mengevakuasi korban tewas dan luka-luka dari reruntuhan bangunan. "Setidaknya 30 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan Israel di Jalur Gaza," ujarnya kepada AFP, Rabu (29/10/2025).

Serangan udara ini terjadi di tengah tuduhan Israel terhadap Hamas atas pelanggaran gencatan senjata dan upaya menyembunyikan jenazah sandera. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk merespons dengan serangan dahsyat ke Gaza.
Israel menuduh Hamas berbohong tentang keberadaan sandera yang tersisa dan melakukan penggalian yang direkayasa untuk menyembunyikan jenazah mereka. "Hamas berbohong. Mereka tahu di mana para sandera yang tersisa berada. Penggalian yang direkayasa tidak hanya merupakan penyiksaan, pelanggaran ini membahayakan gencatan senjata," tegas Kementerian Luar Negeri Israel.
Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut dan menuduh Israel menghalangi upaya pemulangan jenazah tawanan Israel. Hamas menyatakan bahwa Israel mencegah masuknya alat berat ke Gaza dan menghalangi akses tim pencari, termasuk personel Palang Merah, ke area-area penting.
"Menanggapi hal ini, kami menyerukan kepada para mediator dan pihak penjamin untuk memikul tanggung jawab mereka dalam menghadapi hambatan serius ini," kata Hamas dalam sebuah pernyataan.
Situasi di Gaza semakin memprihatinkan dengan saling tuduh antara kedua belah pihak, sementara warga sipil menjadi korban dari eskalasi kekerasan yang terus berlanjut.
