Internationalmedia.co.id – News – Sebuah perkembangan mengejutkan muncul dalam operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda. Kepolisian Daerah Banten mengonfirmasi bahwa sejumlah benda yang ditemukan oleh tim SAR gabungan, termasuk pelampung dan helm, dipastikan bukan milik rombongan atau kapal KM Arupadhatu 1 yang mereka tumpangi. Konfirmasi ini menjadi titik terang sekaligus misteri baru dalam upaya menemukan para korban yang hilang sejak mendekati Gunung Anak Krakatau.
Sebelumnya, tim SAR gabungan telah menemukan beberapa objek di laut pada Kamis (10/9) dan Sabtu (12/9) selama pencarian intensif. Harapan sempat membumbung tinggi bahwa temuan tersebut dapat memberikan petunjuk signifikan. Namun, setelah melalui proses identifikasi mendalam, pihak berwenang memastikan bahwa barang-barang tersebut tidak memiliki korelasi dengan para jurnalis maupun kapal yang mereka gunakan.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, menjelaskan kepada awak media pada Minggu (13/9) bahwa identifikasi dilakukan berdasarkan konfirmasi langsung dari pemilik KM Arupadhatu 1. "Dua jaket pelampung berwarna oranye dengan tulisan ‘MILLES II’ yang ditemukan, kami pastikan bukan milik kapal kami. Jaket pelampung di KM Arupadhatu 1 berwarna merah, kuning, dan ungu, serta tidak ada tulisan ‘MILLES II’," terang Maruli, mengutip keterangan pemilik kapal.
Perbedaan serupa juga ditemukan pada jeriken. Jeriken yang ditemukan tim SAR berwarna biru tua, berkapasitas 35 liter, berbentuk panjang, dengan tutup hitam dan terdapat tulisan. Sementara itu, jeriken milik KM Arupadhatu 1 memiliki ciri khas berwarna biru pudar, berkapasitas 30 liter, berbentuk lebih pendek, bertutup putih, dan polos tanpa penanda apa pun.
Bahkan, satu buah helm plastik berwarna merah yang turut ditemukan juga tidak terkait dengan kapal nahas tersebut. "KM Arupadhatu 1 tidak memiliki atau menyediakan fasilitas helm jenis itu di atas kapal," imbuh Maruli, menegaskan.
Rombongan yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal ini dilaporkan hilang sejak Senin (7/9). Mereka diketahui sedang dalam misi peliputan atau observasi, mendekat ke Gunung Anak Krakatau (GAK) yang kala itu mengalami erupsi besar, bahkan memicu hujan abu vulkanik di beberapa wilayah provinsi. Dengan temuan ini, operasi pencarian terus dilanjutkan, kini dengan fokus yang lebih luas mengingat barang-barang yang ditemukan sebelumnya tidak memberikan petunjuk langsung mengenai keberadaan para korban.
