Moskow mengeluarkan peringatan tegas kepada negara-negara Eropa. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Rusia menyatakan bahwa setiap negara di benua biru yang bersedia menampung pesawat pengebom strategis Prancis, terutama yang berkemampuan nuklir, akan secara otomatis masuk dalam daftar target militer Rusia apabila terjadi konflik berskala besar. Ancaman ini muncul di tengah rencana Prancis untuk memperluas kapabilitas pertahanan nuklirnya.
Peringatan keras ini merupakan respons langsung terhadap inisiatif Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sebelumnya, Macron mengumumkan niatnya untuk memperkuat persenjataan nuklir negaranya, bahkan mengisyaratkan kemungkinan bagi negara-negara mitra Eropa untuk menampung pesawat-pesawat Prancis yang memiliki kapabilitas membawa senjata nuklir. Langkah ini, menurut Paris, bertujuan untuk memperkuat pertahanan kolektif Eropa.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada Kamis lalu, menegaskan bahwa rencana tersebut merupakan bagian dari "eskalasi tak terkendali" potensi nuklir NATO. Menurut Grushko, perkembangan ini secara fundamental menimbulkan ancaman strategis yang serius bagi keamanan Rusia. Pernyataan Grushko ini, seperti dikutip dari berbagai sumber internasional termasuk Reuters dan Al Arabiya, menggarisbawahi kekhawatiran mendalam Moskow.
Grushko secara spesifik menyoroti kekhawatiran Moskow terhadap kemungkinan penempatan aset nuklir Prancis di wilayah negara-negara Eropa lain. Presiden Macron sendiri sebelumnya telah menyebutkan beberapa negara yang sedang dalam diskusi terkait pengaturan ini, di antaranya Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark. "Sudah jelas, militer kami akan terpaksa mencermati isu ini dengan sangat hati-hati dalam konteks pembaruan daftar target prioritas jika terjadi konflik besar," ujar Grushko kepada Russia Today, media pemerintah Rusia.
Ia menambahkan bahwa, alih-alih memperkuat pertahanan sekutu seperti yang diklaim Prancis—klaim yang menurut Grushko tidak disertai jaminan pasti—langkah ini justru akan melemahkan keamanan negara-negara Eropa yang terlibat.
Inisiatif Macron ini dipandang sebagai bagian dari dorongan anggota NATO di Eropa untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam pertahanan mereka sendiri. Hal ini muncul setelah kritik berulang kali dari mantan Presiden AS Donald Trump terhadap aliansi tersebut, yang mendesak negara-negara Eropa untuk meningkatkan kontribusi pertahanan mereka. Namun, peringatan dari Moskow kini menempatkan negara-negara tersebut dalam dilema strategis yang serius.
