Ketegangan geopolitik di Eropa kembali memanas. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, rencana Prancis untuk memperluas arsenal hulu ledak nuklirnya dan kemungkinan menempatkan jet pembawa nuklir di negara-negara Eropa mitra, telah memicu respons keras dari Rusia. Moskow secara tegas memperingatkan bahwa setiap negara yang menerima penempatan tersebut akan menjadi target prioritas jika terjadi konflik besar.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan peningkatan jumlah hulu ledak nuklir negaranya saat berkunjung ke pangkalan militer L’Ile Longue, lokasi penyimpanan kapal selam nuklir Prancis. Mengutip Deutsche Welle (DW) pada 3 Maret, Macron menekankan pentingnya pembaruan arsenal ini di tengah situasi geopolitik yang bergejolak dan penuh risiko. "Pembaruan arsenal kami adalah hal yang penting," kata Macron. "Saat ini kita berada dalam situasi geopolitik yang penuh gejolak dan risiko. Itulah sebabnya saya memerintahkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir dalam arsenal kami." Ia juga menegaskan filosofi di balik keputusan tersebut: "Siapa pun yang ingin bebas harus ditakuti. Siapa pun yang ingin ditakuti harus kuat."

Prancis, satu-satunya negara Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir, juga membuka peluang bagi negara-negara mitra Eropa untuk menampung pesawat-pesawatnya yang mampu membawa senjata nuklir. Pembahasan mengenai pengaturan tersebut sedang berlangsung dengan Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.
Respons Rusia tak main-main. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, dalam wawancara yang diterbitkan pada Kamis (23/4) dan dilansir Reuters serta Al Arabiya, memperingatkan bahwa penempatan pesawat pengebom strategis Prancis di negara-negara Eropa akan menjadikan mereka sasaran serangan pasukan Rusia jika konflik pecah.
Grushko menyebut langkah ini sebagai bagian dari "peningkatan yang tidak terkendali" potensi nuklir NATO, yang menimbulkan ancaman strategis serius bagi Rusia. "Jelas, militer kita akan dipaksa untuk memperhatikan masalah ini dengan saksama dalam konteks memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar," tegasnya kepada media pemerintah Russia Today. Ia menambahkan bahwa inisiatif Macron justru melemahkan keamanan negara-negara tersebut, alih-alih menguatkannya.
Keputusan Prancis ini tidak lepas dari kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap "payung nuklir" Amerika Serikat. Keraguan muncul setelah kritik berulang dari mantan Presiden AS Donald Trump terhadap aliansi NATO dan insiden seperti niatnya mengambil alih Greenland. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyatakan kesiapan Angkatan Udara Jerman untuk digunakan mengangkut bom nuklir milik Prancis, menunjukkan dukungan terhadap inisiatif ini.
Saat ini, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir, menjadikannya kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina. Arsenalnya mencakup empat kapal selam bersenjata nuklir yang beroperasi secara tersembunyi di berbagai wilayah laut dunia dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer. Selain itu, Prancis juga memiliki jet tempur Rafale yang dapat meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir dengan jarak sekitar 500 kilometer. Prancis terakhir kali menambah jumlah senjata nuklirnya pada tahun 1992.
