Sebuah babak baru dalam penjelajahan antariksa telah dibuka. Empat astronaut pemberani dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sukses meluncur ke angkasa pada Rabu (1/4) dalam misi Artemis II yang sangat dinanti. Ini menandai penerbangan berawak pertama mengelilingi Bulan dalam lebih dari lima dekade terakhir. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, misi tanpa pendaratan ini langsung mendapat pujian dari Presiden AS Donald Trump, yang menyebutnya "sungguh luar biasa".
Roket raksasa NASA berwarna oranye dan putih, yang dikenal sebagai Space Launch System (SLS), melesat gagah dari landasan peluncuran di Kennedy Space Center, Florida, tepatnya pada Rabu petang sekitar pukul 18.35 waktu setempat. Sorak sorai kegembiraan membahana dari tim NASA dan ribuan penonton saat pesawat ruang angkasa itu menembus langit malam, meninggalkan jejak api yang memukau. Di dalamnya, tiga astronaut AS dan satu astronaut Kanada memulai perjalanan epik mereka.

Komandan misi, Reid Wiseman, bersama Victor Glover, Christina Koch dari AS, dan Jeremy Hansen dari Kanada, menjadi wajah-wajah di balik pencapaian ini. Dengan penuh semangat, Wiseman menyatakan, "Kita akan menyaksikan terbitnya Bulan yang indah. Kita menuju tepat ke arahnya," menggambarkan antusiasme tim.
Presiden Donald Trump, yang saat itu tengah berpidato membahas situasi di Iran dari Gedung Putih, menyempatkan diri untuk menyampaikan apresiasi mendalam. Beliau secara khusus memberikan selamat kepada "para astronaut pemberani kita" dan seluruh tim NASA. "Izinkan saya memulai dengan mengucapkan selamat kepada tim di NASA dan para astronaut pemberani kita atas keberhasilan peluncuran Artemis II. Itu sungguh luar biasa," ujar Trump, seperti dikutip dari AFP.
Saat ini, keempat astronaut tersebut berada di orbit Bumi, menjalani serangkaian pemeriksaan ketat untuk memastikan keandalan dan keamanan pesawat ruang angkasa yang belum pernah membawa manusia sebelumnya. Mereka juga akan menguji kemampuan pilot manual melalui simulasi docking, sebuah langkah krusial sebelum melanjutkan perjalanan.
Kepala NASA, Jared Isaacman, dengan tegas menyatakan, "NASA kembali mengirimkan manusia ke Bulan," menggarisbawahi signifikansi historis misi ini. Perjalanan menuju Bulan diperkirakan memakan waktu sekitar 10 hari. Setelah tiba, pesawat ruang angkasa akan mengelilingi Bulan, mengambil gambar-gambar permukaan baru, dan melakukan pengamatan langsung.
Misi Artemis II bukan hanya perjalanan semata, melainkan fondasi penting untuk misi pendaratan di Bulan yang direncanakan pada tahun 2028. Lebih jauh lagi, misi ini mencetak sejarah dengan mengirimkan orang kulit berwarna pertama, wanita pertama, dan individu non-Amerika pertama dalam misi ke Bulan. Jika semua berjalan sesuai rencana, para astronaut ini akan mencetak rekor sebagai manusia yang menjelajah paling jauh dari Bumi. Ini juga merupakan penerbangan berawak perdana bagi roket lunar baru NASA, Space Launch System (SLS), yang dirancang untuk memungkinkan AS berulang kali kembali ke Bulan, dengan tujuan akhir membangun pangkalan permanen sebagai platform eksplorasi antariksa lebih lanjut. Peluncuran Artemis II bukan sekadar penerbangan, melainkan lompatan besar bagi umat manusia dalam ambisi menaklukkan batas-batas alam semesta.

