Ketegangan di Selat Taiwan kembali memuncak setelah militer China melancarkan serangkaian latihan perang skala besar di perairan sekitar pulau tersebut. Manuver yang memicu gelombang kritik dari berbagai negara ini justru ditanggapi Beijing dengan kecaman balik yang tajam. Internationalmedia.co.id – News mengamati, otoritas Tiongkok bahkan melabeli para pengkritiknya sebagai ‘munafik’.
Latihan tembak langsung yang berlangsung pada Senin dan Selasa akhir Desember itu melibatkan pengerahan rudal, puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, serta kapal penjaga pantai. Menurut militer Beijing, simulasi ini dirancang untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan dan melancarkan serangan terhadap target-target maritim, sebuah skenario yang jelas menunjukkan ambisi mereka.

Menanggapi gelombang kecaman, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, tidak gentar. Dalam konferensi pers di Beijing, ia menuding negara-negara pengkritik telah "memutarbalikkan fakta dan mencampuradukkan yang benar dan salah". "Negara-negara dan lembaga-lembaga ini menutup mata terhadap kekuatan separatis di Taiwan yang berupaya mewujudkan kemerdekaan melalui cara-cara militer," tegas Lin, seraya menambahkan bahwa kritik terhadap langkah China yang "diperlukan dan adil" untuk mempertahankan kedaulatan nasional adalah tindakan yang "benar-benar munafik".
Kritik pedas memang datang dari berbagai penjuru. Tokyo, melalui pernyataannya, menyebut latihan perang Beijing "meningkatkan ketegangan" di Selat Taiwan dan telah menyampaikan "kekhawatiran" serius kepada otoritas China. Senada, Kementerian Luar Negeri Australia mengecam manuver tersebut sebagai "mengganggu stabilitas" kawasan, dan Canberra pun telah menyuarakan keprihatinan mereka langsung ke Beijing. Sementara itu, Uni Eropa, dalam pernyataan resminya, secara tegas mengkritik latihan tersebut karena "membahayakan perdamaian dan stabilitas internasional".
Taiwan sendiri, sebagai pihak yang paling terdampak, tidak tinggal diam. Otoritas Taipei mengecam keras latihan perang China, melabelinya sebagai langkah yang "sangat provokatif dan sembrono", serta ancaman nyata terhadap keamanan regional dan provokasi terang-terangan.
Di tengah gelombang kritik, Lin Jian juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara seperti Rusia, Pakistan, dan Venezuela, yang telah menyatakan dukungan mereka untuk posisi China. Mengakhiri pernyataannya, Lin menegaskan kembali tekad Beijing yang tak tergoyahkan. "Kami ingin menegaskan kembali tekad China yang teguh untuk menjaga kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas wilayah," ucapnya. Ia menambahkan peringatan keras: "Setiap tindakan provokatif yang keterlaluan yang melampaui batas dalam masalah Taiwan, akan ditanggapi dengan tegas oleh China."
