Internationalmedia.co.id – News, Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggagas sebuah inisiatif global bernama Dewan Perdamaian, yang bertujuan untuk menyelesaikan berbagai konflik di seluruh dunia. Inisiatif ini mendapat respons beragam dari berbagai negara, mulai dari dukungan penuh hingga penolakan.
Sejumlah negara, termasuk Indonesia, bersama dengan negara-negara Arab dan mayoritas Muslim seperti Arab Saudi dan Turki, telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan dewan tersebut. Langkah ini menunjukkan adanya dukungan dari berbagai belahan dunia terhadap upaya perdamaian yang diinisiasi oleh Trump.

Dewan Perdamaian, yang pertama kali diusulkan pada September tahun lalu, awalnya bertujuan untuk mengakhiri perang di Gaza. Namun, Trump kemudian memperluas cakupannya untuk menyelesaikan konflik-konflik lain di seluruh dunia. Trump sendiri akan menjabat sebagai ketua pertama dewan ini.
Menurut draf piagam pembentukan, Dewan Perdamaian akan berfokus pada "mempromosikan stabilitas, memulihkan pemerintahan yang dapat diandalkan dan sah, dan mengamankan perdamaian abadi di area-area yang terdampak atau terancam oleh konflik". Keanggotaan akan dibatasi selama tiga tahun, kecuali jika negara anggota membayar US$ 1 miliar untuk mendanai kegiatan dewan dan mendapatkan keanggotaan permanen.
Selain Indonesia dan negara-negara yang telah disebutkan, negara-negara lain yang juga telah mengumumkan akan bergabung dengan Dewan Perdamaian antara lain Israel, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Qatar, Mesir, Hungaria, Maroko, Pakistan, Kosovo, Uzbekistan, Kazakhstan, Paraguay, Argentina, dan Vietnam. Bahkan, Armenia dan Azerbaijan, yang baru-baru ini mencapai kesepakatan damai yang dimediasi oleh AS, juga disebut setuju untuk bergabung.
Namun, tidak semua negara menyambut baik inisiatif ini. Norwegia, Swedia, dan Prancis telah menyatakan penolakan mereka untuk bergabung. Italia juga mengindikasikan bahwa bergabung dengan Dewan Perdamaian akan menjadi langkah yang problematik. Sementara itu, Kanada masih mempertimbangkan proposal tersebut.
Negara-negara sekutu AS seperti Inggris, Jerman, dan Jepang belum mengambil sikap publik yang jelas. Rusia dan China juga belum memberikan tanggapan resmi, meskipun Trump mengklaim bahwa Presiden Vladimir Putin telah setuju untuk bergabung, namun Putin menyatakan masih mempelajari proposal tersebut.
