Internationalmedia.co.id – News – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara masif mengintensifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Dengan ancaman El Niño kuat pada tahun 2026, BNPB mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga operasi darat guna menekan laju api di enam provinsi prioritas, mulai dari Riau hingga Kalimantan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan, prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai El Niño kuat tahun ini terbukti, dengan peningkatan signifikan luas lahan terbakar di provinsi-provinsi lahan gambut prioritas. Data BNPB per 8 September 2026 menunjukkan total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi tersebut telah mencapai 76.922,3 hektare.

Suharyanto menjelaskan, strategi penanganan karhutla mengandalkan kombinasi OMC, operasi darat, operasi udara (water bombing), dan penegakan hukum. OMC dinilai paling efektif karena mampu memicu hujan yang memadamkan area luas. Namun, operasi darat sangat krusial untuk lahan gambut, di mana api seringkali membara di bawah tanah. Water bombing bertugas memadamkan "kepala api" di permukaan, membuka jalan bagi pasukan darat untuk membasahi lahan secara menyeluruh. Ketiga metode ini saling melengkapi dan tak terpisahkan dalam menghadapi puncak kemarau El Niño 2026.
Penanganan karhutla di lahan gambut memerlukan pendekatan khusus. Meskipun api di permukaan tampak padam, bara di kedalaman gambut bisa terus menyala. Untuk itu, BNPB menggunakan alat "suntik gambut" yang mampu menyalurkan air hingga kedalaman 1-2 meter. "Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur," tegas Suharyanto, seperti dikutip dari internationalmedia.co.id.
Tantangan lain dalam pemadaman adalah asap yang terus mengepul, mengganggu jarak pandang dan berdampak pada penerbangan serta kehidupan masyarakat. Fenomena api yang berhasil dipadamkan namun asapnya tetap keluar ini menjadi fokus BNPB untuk terus menggenjot modifikasi cuaca. Selain itu, asap lintas batas ke Sarawak, Malaysia, juga menjadi perhatian, dengan indikasi kompleksitas penyebab dari asap yang tertiup maupun titik karhutla di wilayah perbatasan.
Untuk memperkuat operasi, BNPB bersama TNI dan Kementerian Pertahanan mengerahkan 55 armada udara, terdiri dari 19 armada patroli dan pendukung OMC, serta 34 armada water bombing. Tiga helikopter Chinook CH-47 dari Jepang juga telah tiba pada 10 September 2026. Di darat, 43.481 personel satgas gabungan dari BNPB, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, dan relawan terus diperkuat dengan dukungan logistik dan peralatan. BNPB juga aktif menindaklanjuti hotspot atau titik panas yang terdeteksi satelit, memverifikasinya melalui patroli udara dan darat menjadi "fire spot" atau titik kebakaran yang betul-betul ditemukan di lapangan, untuk kemudian dipadamkan.
Di Riau, laporan Tim Pendamping Karhutla per 10 September 2026 mencatat lebih dari 19.000 hektare lahan terbakar sejak awal tahun, namun penanganan masih terkendali dengan penurunan fire spot berkat hujan dalam dua hari terakhir. Kalimantan Tengah mencatat 7.634,46 hektare terbakar per 10 September 2026, dengan 90 fire spot dan sekitar 141,1 hektare terpantau padam melalui operasi darat. Sementara di Kalimantan Selatan, penanganan di kawasan Gunung Damar, Banjarbaru, telah berlangsung lebih dari 15 hari, dengan sekitar 36,18 hektare masih dalam penanganan dari total estimasi 132,062 hektare. Untuk Kalimantan Timur, khususnya dekat Ibu Kota Nusantara (IKN), sekitar 400 hektare lahan terus ditangani meskipun api sering padam dan hidup kembali di daerah seperti Bukit Suharto dan Kabupaten Berau.
"Pada prinsipnya, Indonesia berusaha sangat keras dan maksimal agar asap tidak mengganggu kesehatan dan perekonomian warga terdampak dan negara tetangga," pungkas Suharyanto, menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadapi bencana ini.
