Badan Narkotika Nasional (BNN) mengambil langkah revolusioner dalam upaya pencegahan narkoba di Indonesia. Mereka kini mengalihkan fokus strategi ke jalur sains dan perubahan perilaku. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, perubahan ini bukan sekadar penyesuaian, melainkan evolusi mendalam yang bertujuan mengatasi akar masalah penyalahgunaan narkotika.
Jika sebelumnya BNN cenderung berintervensi saat penyalahgunaan sudah terjadi, kini pendekatan mereka jauh lebih proaktif. Intervensi dimulai sejak dini, menyasar anak-anak, teman sebaya, guru, lingkungan sekolah, keluarga, komunitas, hingga layanan rehabilitasi. Ini menandai pergeseran paradigma yang signifikan dalam penanggulangan bahaya narkoba.

Perubahan fundamental ini terungkap dalam Laporan Komprehensif ANANDA Bersinar 2026, sebuah studi analitis independen yang digarap oleh Tim Klinik Digital bersama Associate Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, dari Program Vokasi Universitas Indonesia (UI). Kajian ini memberikan landasan ilmiah kuat bagi strategi baru BNN.
Studi tersebut menggunakan metode analisis kuantitatif web scraping, triangulasi sumber, telaah teori perilaku dan komunikasi risiko, serta kerangka evaluasi program berbasis bukti. Riset menganalisis aktivitas daring dari 30 Januari hingga 19 Agustus 2026, memastikan data yang komprehensif dan valid. "Prosesnya tidak berhenti pada pengumpulan pemberitaan, tetapi meliputi pencarian dan seleksi sumber, ekstraksi data, normalisasi angka, serta triangulasi sumber resmi BNN dan pemerintah dengan portal program, media, dan publikasi institusional," kata Devie Rahmawati dalam keterangannya.
Devie Rahmawati menjelaskan bahwa temuan paling krusial bukan terletak pada besarnya angka kegiatan yang dijangkau BNN, melainkan pada "arsitektur program" yang sedang dibangun. "Temuan paling menarik bagi kami bukan hanya berapa banyak orang yang dijangkau BNN, melainkan hal fundamental, bagaimana BNN memperluas titik berat pencegahan, dengan tidak hanya menyampaikan bahaya narkoba, tetapi justru menuju pembangunan lingkungan yang membuat anak lebih mampu untuk tidak pernah memulainya," tegas Devie.
Menurut kajian Klinik Digital, program ANANDA Bersinar beroperasi pada berbagai lapisan ekologi sosial, mulai dari individu, teman sebaya, keluarga, sekolah, komunitas, hingga sistem dan layanan. Pendekatan ini selaras dengan literatur pencegahan modern yang menyatakan bahwa perilaku berisiko tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh interaksi individu dengan lingkungan sosialnya.
Oleh karena itu, pendekatan yang menghubungkan anak, peer agent, guru, sekolah, keluarga, aktivitas komunitas, dan layanan ramah anak merupakan salah satu kekuatan program ANANDA Bersinar. Giri Lumakto, anggota tim riset Klinik Digital, menambahkan, "Pencegahan terbaik bukan hanya membuat anak takut kepada narkoba. Pencegahan terbaik adalah membuat anak memiliki keterampilan menolak, teman yang mendukung, guru yang mampu merespons, keluarga yang dapat menjadi tempat aman, sekolah yang mempunyai sistem, dan layanan yang tersedia ketika pertolongan diperlukan."
Secara keseluruhan, riset mengidentifikasi setidaknya tujuh tipe intervensi, aktivitas dalam rentang observasi 202 hari, dan jejak kegiatan di minimal enam provinsi. Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa ANANDA Bersinar telah menunjukkan mobilisasi awal yang menjanjikan, portofolio multilevel, dan infrastruktur jejaring yang kuat.
"Fokus terhadap anak sejalan dengan prinsip early intervention dan agenda pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045. Portofolio lintas level memungkinkan BNN bekerja simultan pada norma sosial, keterampilan anak, lingkungan sekolah, dan akses layanan. Jejaring 833 sekolah di DKI Jakarta juga merupakan modal institusional signifikan yang dapat dikembangkan menjadi jaringan school champions," jelas Giri. Ia menambahkan bahwa keterlibatan 818 guru, pengembangan layanan anak dan remaja, serta pemanfaatan kegiatan komunitas dan olahraga, membuktikan program ini bukan sekadar kampanye komunikasi satu arah.
Devie Rahmawati, yang juga pegiat literasi di Klinik Digital, menekankan perbedaan ukuran keberhasilan. "Kalau selama ini keberhasilan pemberantasan narkoba sering terlihat dari berapa kilogram narkotika yang disita, maka pencegahan memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda, yaitu berapa banyak anak yang akhirnya tidak pernah memulai. Yang pertama bisa difoto hari ini. Yang kedua baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Tetapi justru yang kedua merupakan investasi terbesar sebuah negara," serunya.
Kajian Klinik Digital tidak hanya terpaku pada pemberitaan positif, melainkan membandingkan desain ANANDA Bersinar dengan literatur ilmiah dan kerangka internasional mengenai pencegahan penyalahgunaan zat, perubahan perilaku, komunikasi risiko, dan evaluasi program. Landasan akademiknya mencakup Social Ecological Model, Theory of Planned Behavior, Extended Parallel Process Model, Inoculation Theory, bukti school-based prevention, hingga kerangka RE-AIM, CDC Program Evaluation Framework, dan AMEC Integrated Evaluation Framework. Kajian ini juga mengacu pada standar WHO-UNODC yang menempatkan keselamatan, perlindungan, kebutuhan perkembangan, serta lingkungan layanan yang sesuai anak sebagai prinsip penting pelayanan anak dan remaja.
Mila Viendyasari, salah satu peneliti dari Klinik Digital, menyoroti keunggulan pendekatan BNN saat ini, yaitu terbangunnya portofolio pencegahan yang tidak bergantung pada satu jenis intervensi. "Dunia sudah lama mengetahui bahwa ceramah satu arah dan menakut-nakuti anak bukanlah strategi pencegahan yang memadai. Pencegahan yang lebih kuat bekerja pada keterampilan sosial, self-efficacy, norma teman sebaya, kualitas relasi keluarga, kapasitas sekolah, dan akses pertolongan. Menariknya, sejumlah elemen itu sudah terlihat dalam arsitektur yang dibangun BNN," ujarnya.
Menurut Studi Klinik Digital, signifikansi pendekatan BNN saat ini terletak pada peluang mengintegrasikan dua sisi kebijakan narkotika yang selama ini kerap dibaca secara terpisah: penindakan terhadap suplai dan pencegahan terhadap lahirnya permintaan baru. "ANANDA Bersinar menunjukkan potensi perubahan paradigma, di mana anak tidak semata diposisikan sebagai penerima pesan ‘narkoba berbahaya’, tetapi berada dalam ekosistem yang melibatkan peer group, guru, sekolah, keluarga, komunitas, dan layanan," tambah Mila.
Dalam Social Ecological Model, struktur semacam ini memiliki basis konseptual yang kuat karena perilaku individu dipengaruhi secara simultan oleh faktor intrapersonal, interpersonal, organisasi, komunitas, dan kebijakan. Kajian menemukan kampanye BNN telah menyentuh hampir seluruh lapisan tersebut. Devie menyebutnya sebagai pergeseran dari campaign thinking menuju ecosystem thinking. "Program ini menjadi salah satu transformasi paling penting. Negara tidak bisa menjaga anak 24 jam sehari. Tetapi negara dapat membangun ekosistem, yang membuat pilihan sehat menjadi lebih mudah, pertolongan menjadi lebih dekat, dan narkoba menjadi semakin tidak relevan dalam kehidupan mereka," tutup Devie.
