Ketegangan di Selat Taiwan kembali memanas menyusul serangkaian latihan militer masif yang dilancarkan China selama dua hari terakhir. Aksi Beijing, yang melibatkan peluncuran rudal dan pengerahan jet tempur, tak hanya memicu kecaman keras dari Presiden Taiwan Lai Ching-te, tetapi juga mengakibatkan kekacauan signifikan pada jadwal penerbangan di seluruh wilayah tersebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa puluhan penerbangan terpaksa dibatalkan, meninggalkan ribuan penumpang dalam ketidakpastian.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Facebook resminya, Presiden Lai tidak menahan diri. Ia menuduh China "mengabaikan harapan masyarakat internasional akan perdamaian" dan secara sengaja "merusak stabilitas regional melalui intimidasi militer." "Ini adalah provokasi terang-terangan terhadap keamanan regional dan tatanan internasional," tegas Lai, seraya menambahkan bahwa ia menyampaikan "kecaman keras" atas tindakan tersebut.

Militer China, melalui pernyataan resminya pada Selasa pagi, mengonfirmasi pengerahan armada besar yang mencakup kapal penghancur, fregat, jet tempur, dan pesawat pengebom. Latihan ini dirancang untuk menguji berbagai skenario, mulai dari identifikasi dan verifikasi target, peringatan dan pengusiran, hingga simulasi serangan, serangan terhadap target maritim, serta operasi antiudara dan antikapal selam.
Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan utama latihan di perairan utara dan selatan Taiwan adalah untuk "menguji kemampuan koordinasi laut-udara dan blokade serta kontrol terpadu." Lebih lanjut, televisi pemerintah China, CCTV, mengungkap bahwa "blokade" pelabuhan-pelabuhan strategis Taiwan, seperti Keelung di utara dan Kaohsiung di selatan, menjadi tema sentral dari manuver militer tersebut.
Beijing telah merilis peta yang menunjukkan lima zona latihan utama yang mengelilingi Taiwan. Otoritas Taiwan mengungkapkan keprihatinan serius, mengingat beberapa zona tersebut berada dalam jarak 12 mil laut dari garis pantai Taiwan, secara langsung mengganggu rute pelayaran dan koridor penerbangan internasional yang vital.
Dampak langsung dari latihan ini sangat terasa di sektor transportasi udara. Otoritas Penerbangan Sipil Taiwan mengonfirmasi pembatalan puluhan penerbangan menuju pulau-pulau terpencil seperti Kinmen dan Matsu, yang diperkirakan memengaruhi sekitar 6.000 penumpang. Selain itu, lebih dari 850 penerbangan internasional yang melintasi wilayah tersebut diperkirakan akan "terdampak" dan berpotensi mengalami penundaan signifikan.
Kementerian Pertahanan Taiwan merilis laporan terpisah yang merinci aktivitas militer China. Dalam kurun waktu 24 jam hingga Selasa pagi pukul 06.00 waktu setempat, sebanyak 130 pesawat militer China terdeteksi beroperasi di dekat pulau itu. Tidak hanya di udara, 14 kapal angkatan laut China dan delapan kapal pemerintah juga terpantau di perairan sekitar Taiwan.
Menanggapi pengerahan armada China, Otoritas Penjaga Pantai Taiwan segera mengerahkan 14 kapal patrolinya. Mereka menyatakan akan menggunakan "pendekatan pengawasan satu lawan satu untuk secara paksa mencegah" kapal-kapal China tersebut, sebuah langkah yang menggarisbawahi keseriusan Taiwan dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
