Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah serangkaian serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Lebanon. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, insiden tragis ini menewaskan sedikitnya dua belas staf medis di sebuah klinik, menambah daftar panjang korban sipil dalam konflik yang semakin meluas antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Eskalasi konflik ini bermula pekan lalu, ketika Lebanon, melalui kelompok Hizbullah yang didukung Iran, melancarkan serangan balasan terhadap Israel. Aksi ini merupakan respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan gabungan yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, yang memicu gelombang kemarahan di kawasan.

Menurut laporan otoritas kesehatan Lebanon yang dikutip oleh AFP pada Sabtu (14/3/2026), dua belas individu yang berprofesi sebagai dokter, paramedis, dan perawat, yang tengah bertugas di sebuah pusat kesehatan di kota Burj Qalawiya, menjadi korban jiwa akibat serangan udara Israel. Tragedi ini menggarisbawahi bahaya ekstrem yang dihadapi para pekerja kemanusiaan di zona konflik.
Tak hanya itu, insiden terpisah di kota Sawaneh juga merenggut nyawa dua paramedis yang berafiliasi dengan Hizbullah dan sekutunya, Amal. Menanggapi ancaman Tel Aviv yang akan membuat Lebanon membayar "harga yang semakin mahal" dalam kerusakan infrastruktur, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Jumat (13/3) menegaskan kesiapan kelompoknya untuk menghadapi konfrontasi jangka panjang. "Ini adalah pertempuran eksistensial, bukan pertempuran yang terbatas atau sederhana," ujar Qassem dalam pidato yang disiarkan televisi, mengisyaratkan intensitas konflik yang akan datang.
Selain korban jiwa, infrastruktur Lebanon juga menjadi sasaran. Pada Jumat (13/3), serangan Israel menghancurkan sebuah jembatan vital yang membentang di atas Sungai Litani, menghubungkan kota Zrariyeh dan Tayr Falsay. Jembatan ini memiliki peran strategis karena memisahkan wilayah selatan Lebanon dengan wilayah timur dan barat, menjadikannya target penting dalam strategi militer.
Militer Israel dalam pernyataannya mengklaim bahwa jembatan yang dihancurkan tersebut merupakan "perlintasan kunci" bagi Hizbullah untuk "membangun kekuatan dan mempersiapkan diri bagi pertempuran." Serangan ini menandai pertama kalinya Israel secara terbuka mengakui penargetan infrastruktur publik Lebanon sejak dimulainya perang Timur Tengah, mengindikasikan pergeseran taktik dalam konflik.
Saksikan juga video eksklusif: internationalmedia.co.id merekam momen-momen saat rudal Israel menghantam gedung di Beirut Lebanon!

