Blok ekonomi Asia Tenggara, ASEAN, menyuarakan keprihatinan mendalam dan mendesak Amerika Serikat (AS) serta Iran untuk segera kembali ke meja perundingan. Desakan ini bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah dan memastikan kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul dari pertemuan daring para menteri luar negeri dari 11 negara anggota, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, di tengah meningkatnya ketegangan regional yang berpotensi memicu krisis energi global.
Ketergantungan besar negara-negara Asia Tenggara terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah menjadi alasan utama di balik desakan ini. Filipina dan Malaysia, misalnya, sangat merasakan dampak penutupan efektif Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran. Jalur maritim strategis ini, yang menjadi urat nadi ekspor minyak, kini terancam lumpuh, mengancam stabilitas ekonomi di kawasan Asia.

Pertemuan mendesak para menlu ASEAN ini diselenggarakan hanya beberapa jam sebelum Angkatan Laut AS dijadwalkan memulai blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah blokade tersebut merupakan perintah langsung dari Presiden AS Donald Trump, menyusul kegagalan negosiasi antara AS dan Iran di Pakistan. Trump beralasan, Iran menolak untuk menghentikan ambisinya dalam pengembangan senjata nuklir, yang memicu eskalasi ketegangan.
Dalam konsensus bersama, para menteri luar negeri ASEAN sepakat untuk mendesak kedua belah pihak, AS dan Iran, agar "melanjutkan perundingan yang akan mengarah pada pengakhiran konflik secara permanen serta terciptanya perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan itu." Mereka juga menyerukan "implementasi penuh dan efektif" dari gencatan senjata dua minggu yang sedang berlangsung, serta "pemulihan jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di Selat Hormuz."
Signifikansi Selat Hormuz tak terbantahkan. Menurut data dari Badan Energi Internasional, sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak dunia melalui laut melewati jalur ini, dengan 80 persen di antaranya ditujukan ke pasar-pasar Asia. Penutupan atau gangguan serius di selat ini berpotensi memicu krisis energi global, khususnya di benua Asia yang sangat bergantung pada pasokan tersebut.
Kekhawatiran akan dampak konflik ini telah mendorong beberapa negara anggota ASEAN untuk mengambil langkah antisipatif. Filipina, yang saat ini memegang jabatan ketua bergilir ASEAN, bulan lalu telah menerapkan sistem kerja empat hari seminggu bagi pegawai negeri sipilnya sebagai upaya penghematan bahan bakar. Sementara itu, Malaysia, Thailand, dan Vietnam mendorong kebijakan bekerja dari rumah (work from home) bagi aparatur sipil negara mereka, menunjukkan keseriusan dalam menghadapi potensi krisis energi.

