Internationalmedia.co.id – News – Washington DC. Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, melontarkan klaim mengejutkan mengenai kondisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Hegseth menyatakan Mojtaba, yang belum pernah muncul secara langsung di hadapan publik sejak pengangkatannya, kini dalam kondisi terluka dan kemungkinan mengalami cacat fisik akibat serangan gabungan AS dan Israel. Klaim ini memicu gelombang spekulasi di tengah ketidakmunculan Mojtaba di mata publik.
Pernyataan Hegseth ini menyusul wawancara Presiden Donald Trump dengan Fox News pada Kamis (12/3), di mana Trump meyakini Mojtaba masih hidup namun telah menderita cedera serius akibat serangan AS-Israel. Hegseth, dalam konferensi pers pada Jumat (13/3), memperkuat klaim tersebut, menyebut bahwa pernyataan pertama Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi hanya dirilis dalam bentuk tertulis, tanpa suara atau video.

"Kita tahu bahwa pemimpin yang disebut-sebut tidak begitu tertinggi itu terluka dan kemungkinan mengalami cacat fisik. Dia merilis pernyataan kemarin. Pernyataan yang lemah, sebenarnya, tetapi tidak ada suara dan tidak ada video. Itu adalah pernyataan tertulis," kata Hegseth. Ia menambahkan, "Iran memiliki banyak kamera dan memiliki banyak alat perekam suara. Mengapa pernyataan tertulis? Saya rasa Anda mengetahui alasannya. Ayahnya – tewas. Dia takut, dia terluka, dia menjadi buronan, dan dia tidak memiliki legitimasi."
Spekulasi mengenai kondisi Mojtaba semakin menguat karena ia belum tampil langsung di hadapan publik Iran sejak diumumkan terpilih sebagai pemimpin tertinggi pada 1 Maret lalu. Hingga kini, belum ada foto terbaru Mojtaba yang dirilis oleh otoritas Iran sejak serangkaian serangan AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan sebagian besar keluarganya, termasuk mendiang Ayatollah Ali Khamenei, ibundanya, dan istrinya.
Pernyataan publik pertama Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran disampaikan secara tertulis, dibacakan oleh seorang presenter televisi pemerintah Iran pada Kamis (12/3) waktu setempat. Dalam pernyataan perdananya itu, Mojtaba berjanji untuk tetap menutup Selat Hormuz dan menyerukan negara-negara tetangga Iran untuk menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka atau berisiko menjadi sasaran serangan Teheran.
Namun, pihak Iran membantah klaim cedera parah tersebut. Seorang pejabat Teheran, yang enggan disebut namanya, mengakui kepada Reuters bahwa Mojtaba memang mengalami luka ringan, namun ia masih bisa terus beraktivitas. Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, juga menegaskan pada Jumat (13/3) bahwa Mojtaba tidak dalam kondisi "melemah."
"Yang kami ketahui adalah bahwa dia menderita luka-luka akibat perang saat ini, ketika pemimpin tertinggi saya dibunuh," kata Saadat kepada Asahi TV. "Tetapi bukan dengan cara yang akan mencegahnya untuk berfungsi. Dia adalah pemimpin yang berfungsi. Jadi untungnya, tidak ada yang terganggu. Itulah mengapa mereka memilih pemimpin saat ini," tegasnya, seperti dikutip internationalmedia.co.id.
Perbedaan narasi yang mencolok antara Washington dan Teheran ini memperdalam misteri seputar kondisi dan legitimasi pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang terus menjadi sorotan dunia.

