Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Amerika Serikat (AS) secara tegas meminta warga sipil untuk segera meninggalkan seluruh fasilitas pelabuhan di sepanjang Selat Hormuz. Peringatan ini datang di tengah ancang-ancang AS untuk melancarkan serangan baru di wilayah Iran, demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News.
United States Central Command (CENTCOM) dalam pernyataan terbarunya mendesak para pekerja pelabuhan Iran, personel administrasi, dan awak kapal komersial untuk menjauhi kapal angkatan laut Iran serta peralatan militer. Langkah ini, seperti dikutip Al Jazeera, mengindikasikan persiapan militer AS untuk eskalasi konflik di kawasan strategis tersebut.

Selat Hormuz sendiri saat ini telah ditutup oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) menyusul pecahnya perang dengan AS dan Israel. Pasukan angkatan laut Iran telah bersiaga penuh di area strategis itu, dengan tujuan mencegah kapal-kapal melintas tanpa izin dari otoritas Iran.
Situasi semakin panas setelah Garda Revolusi Iran dilaporkan melepaskan serangan terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz. Salah satu kapal yang menjadi sasaran adalah kapal pengangkut barang curah "Express Rome" milik Israel yang berbendera Liberia, serta kapal kontainer "Mayuree Naree" yang berasal dari Thailand.
Menurut keterangan Garda Revolusi yang dimuat kantor berita ISNA Iran dan dilansir AFP, kedua kapal itu terkena proyektil Iran dan terpaksa berhenti setelah mengabaikan peringatan dari pasukan angkatan laut IRGC. Komandan angkatan laut Garda Revolusi, Alireza Tangsiri, bahkan menegaskan melalui unggahan di X bahwa "setiap kapal yang bermaksud untuk lewat harus mendapatkan izin dari Iran."
Insiden ini menimbulkan korban. Kementerian Transportasi Thailand, melalui laporan Reuters, mengonfirmasi bahwa 20 awak kapal "Mayuree Naree" berhasil diselamatkan setelah meninggalkan kapal dengan sekoci dan ditolong oleh angkatan laut Oman. Namun, tiga awak kapal lainnya masih dinyatakan hilang.
Ledakan yang terjadi di buritan kapal "Mayuree Naree" menyebabkan kebakaran di kompartemen mesin, tempat ketiga awak kapal yang hilang tersebut bekerja. Peristiwa ini menambah daftar panjang ketegangan di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia, menggarisbawahi potensi bahaya yang mengancam pelayaran internasional di tengah konflik yang memanas.

