Internationalmedia.co.id – News, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi keras pernyataan yang disampaikan Menlu Amerika Serikat, Marco Rubio, yang membenarkan serangan besar-besaran terhadap Teheran. Araghchi menuding Rubio secara terang-terangan mengakui bahwa Washington terlibat dalam konflik ini "atas nama Israel." Pernyataan ini memicu gelombang perdebatan baru di tengah eskalasi ketegangan regional antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv.
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui media sosial X pada Selasa (3/3) waktu setempat, Araghchi menegaskan, "Rubio mengakui apa yang selama ini kita semua ketahui: AS telah memasuki perang pilihan atas nama Israel." Ia menambahkan bahwa tidak pernah ada yang disebut sebagai ‘ancaman’ dari Iran. Araghchi juga secara eksplisit menyatakan bahwa pertumpahan darah yang melibatkan warga Amerika dan Iran sepenuhnya menjadi tanggung jawab "pendukung Israel," sebuah istilah yang merujuk pada individu atau kelompok yang dituduh memprioritaskan kepentingan Israel di atas kepentingan nasional AS.

"Rakyat Amerika pantas mendapatkan yang lebih baik dan harus merebut kembali negara mereka," seru Araghchi, menekankan bahwa warga AS perlu menyadari motif di balik keterlibatan negara mereka dalam konflik ini.
Sebelumnya, Menlu AS Marco Rubio, seperti dilansir AFP, menjelaskan bahwa serangan AS ke Iran dilakukan setelah Washington menerima informasi intelijen bahwa sekutu dekatnya, Israel, akan melancarkan aksi. Kekhawatiran akan adanya balasan Iran yang menargetkan pasukan militer AS di kawasan tersebut menjadi pemicu utama serangan pre-emptive. "Kita mengetahui bahwa akan ada aksi Israel. Kita mengetahui bahwa hal itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kita mengetahui jika kita tidak menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melancarkan serangan tersebut, kita akan menderita korban jiwa yang lebih tinggi," kata Rubio.
Pernyataan Rubio ini sontak menuai kritik dari anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Joaquin Castro. Castro menilai komentar tersebut mengindikasikan bahwa Israel "telah menempatkan pasukan AS dalam bahaya dengan bersikeras menyerang Iran," memperkeruh situasi dan menyoroti potensi konflik kepentingan.
Di tengah saling tuding ini, laporan otoritas Iran mengklaim bahwa sedikitnya 555 orang tewas akibat gelombang serangan AS-Israel. Teheran juga mengklaim telah menewaskan dan melukai setidaknya 560 tentara AS dalam serangan balasan mereka. Namun, pihak AS sejauh ini hanya mengonfirmasi empat tentaranya tewas akibat serangan pembalasan Iran, menunjukkan perbedaan data yang signifikan dan sulit diverifikasi secara independen.
Situasi ini menggarisbawahi semakin panasnya tensi antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv, dengan pengakuan terbuka dari pejabat AS ini berpotensi mengubah dinamika geopolitik di Timur Tengah.

