Internationalmedia.co.id melaporkan perkembangan terkini konflik Israel-Iran yang melibatkan Amerika Serikat (AS). Pernyataan dan tindakan AS yang kontroversial menimbulkan pertanyaan besar bagi dunia internasional. Bagaimana AS bisa menyerang Iran, lalu tiba-tiba mengklaim telah mencapai gencatan senjata?
Awalnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran pada Minggu, 22 Juni lalu. Dalam pidato singkatnya, Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan lebih besar jika Teheran tidak berdamai. "Akan ada perdamaian atau akan ada tragedi bagi Iran yang jauh lebih besar," ancam Trump, seperti dikutip dari laporan AFP. Pernyataan tersebut diikuti dengan ancaman akan menyerang target-target lain dengan presisi tinggi.

Serangan AS tersebut langsung dikecam keras oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Araghchi menyebut serangan itu sebagai "agresi militer brutal" dan pelanggaran serius hukum internasional, sebagaimana dilansir Aljazeera. Ia menegaskan bahwa AS akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan agresifnya.
Tak berselang lama, Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer utama AS di Al-Udeid, Qatar. Serangan balasan ini diklaim sebagai respons atas tindakan AS, dan dilakukan tanpa menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangga. Jumlah rudal yang digunakan, menurut pernyataan resmi Iran, setara dengan jumlah bom yang dijatuhkan AS pada fasilitas nuklir Iran.
Namun, plot twist terjadi. Tiba-tiba, Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel melalui platform Truth Social miliknya. Ia mengklaim gencatan senjata akan berlaku enam jam setelah pengumuman, dan akan berlangsung selama 24 jam. Trump menyatakan telah menengahi kesepakatan ini melalui komunikasi telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pejabat Iran. Pejabat Gedung Putih yang tak disebutkan namanya mengonfirmasi adanya komunikasi dengan pihak Iran, dan menyebut Israel bersedia gencatan senjata dengan syarat Iran tidak melancarkan serangan baru. Wakil Presiden AS, Menteri Luar Negeri, dan utusan khusus AS juga dikabarkan terlibat dalam proses negosiasi.
Pernyataan Trump ini menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana AS bisa begitu cepat mencapai gencatan senjata setelah serangan besar-besaran? Apakah gencatan senjata ini benar-benar efektif? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menunggu jawaban yang jelas dari pihak-pihak yang terlibat.
