Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai puncaknya. Internationalmedia.co.id – News – Washington mengisyaratkan kesiapan untuk melancarkan serangan militer terhadap Teheran paling cepat akhir pekan ini, sebuah keputusan krusial yang sepenuhnya berada di tangan Presiden AS Donald Trump. Situasi di Timur Tengah kian memanas, dengan spekulasi mengenai potensi konfrontasi bersenjata yang membayangi kawasan tersebut.
Sejak beberapa hari terakhir, AS telah melakukan pengerahan kekuatan militer secara masif di Timur Tengah. Laporan dari berbagai sumber, termasuk internationalmedia.co.id, menyebutkan bahwa kapal perang, jet tempur canggih, dan pesawat pengisi bahan bakar telah dikerahkan dalam skala besar. Kesiapan tempur ini menunjukkan bahwa militer AS siap bertindak jika perintah dari Gedung Putih dikeluarkan, dengan potensi serangan yang bisa terjadi dalam hitungan hari.

Presiden Trump, yang sebelumnya pernah memerintahkan serangan terhadap Iran dan membatalkan perjanjian nuklir pada 2018, kini kembali dihadapkan pada dilema besar. Ia berulang kali mengancam Teheran dengan aksi militer jika perundingan yang sedang berlangsung gagal mencapai kesepakatan pengganti. Sumber-sumber di Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump secara pribadi telah mempertimbangkan argumen baik untuk mendukung maupun menentang tindakan militer, mencari masukan dari para penasihat dan sekutunya mengenai langkah terbaik yang harus diambil.
Di tengah persiapan militer yang intens, upaya diplomatik juga terus berjalan. Para pejabat keamanan nasional AS menggelar pertemuan penting di Situation Room Gedung Putih pada Rabu (18/2) waktu setempat. Selain itu, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, bersama menantu Trump, Jared Kushner, baru saja menyelesaikan pembicaraan tidak langsung dengan Iran di Swiss pada Selasa (17/2). Meskipun perundingan yang dimediasi Oman itu berlangsung selama 3,5 jam dan menghasilkan "serangkaian prinsip panduan", seorang pejabat AS mengakui "masih banyak detail yang perlu dibahas" sebelum kesepakatan final tercapai.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu (18/2), menegaskan bahwa diplomasi selalu menjadi pilihan utama Presiden Trump. Namun, ia juga secara eksplisit menyatakan bahwa aksi militer tetap menjadi opsi yang dipertimbangkan serius. "Ada banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran," ujar Leavitt, menambah kekhawatiran akan eskalasi. Iran sendiri diharapkan akan menyampaikan rincian lebih lanjut mengenai posisi negosiasinya dalam beberapa minggu ke depan, namun Leavitt tidak menjelaskan apakah Trump akan menunda aksi militer selama jangka waktu tersebut.
Kesiapan militer AS semakin diperkuat dengan potensi kedatangan kapal induk tercanggih, USS Gerald R Ford, di kawasan tersebut paling cepat akhir pekan ini, bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang lainnya. Semua mata kini tertuju pada Gedung Putih, menanti apakah Trump akan mengambil keputusan besar yang dapat mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah dan memicu konflik yang lebih luas.

