Sebuah kabar mengejutkan datang dari Inggris. Pangeran Andrew, adik kandung Raja Charles III, dilaporkan sempat ditahan oleh kepolisian terkait dugaan pelanggaran hukum saat menjabat. Penahanan singkat ini, seperti diungkapkan Internationalmedia.co.id – News, diduga kuat berkaitan dengan keterlibatannya dalam dokumen rahasia kejahatan seksual Jeffrey Epstein yang baru-baru ini dirilis di Amerika Serikat.
Penangkapan Pangeran Andrew terjadi pada Kamis, 19 Februari. Namun, hanya beberapa jam berselang, tepatnya pukul 19.00 GMT atau Jumat dini hari pukul 02.00 WIB, Duke of York itu terpantau sudah meninggalkan kantor polisi Aylsham. Lokasi kantor polisi ini berada sekitar 60 kilometer dari kediaman pribadinya di Sandringham.

Kepolisian Thames Valley, melalui pernyataan resminya, mengonfirmasi bahwa "pria yang sempat ditahan itu kini telah dilepaskan, namun masih dalam penyelidikan." Sebelum penahanan, aparat penegak hukum juga telah melakukan penggeledahan di kediaman Pangeran Andrew yang berlokasi di Sandringham, Norfolk, wilayah timur Inggris.
Langkah penangkapan ini diambil menyusul peninjauan menyeluruh oleh Kepolisian Thames Valley terhadap berbagai pengaduan. Dugaan pelanggaran jabatan publik ini disebut terjadi saat Pangeran Andrew masih aktif sebagai utusan perdagangan Kerajaan Bersatu (UK). Asisten Kepala Kepolisian Thames Valley, Oliver Wright, menegaskan, "Setelah peninjauan menyeluruh, kami kini telah resmi membuka penyelidikan atas tuduhan pelanggaran jabatan publik." Wright menambahkan pentingnya menjaga integritas dan objektivitas penyelidikan, serta berjanji akan memberikan informasi terbaru mengingat tingginya perhatian publik terhadap kasus ini.
Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor, yang telah kehilangan gelar kebangsawanannya sejak tahun lalu, secara konsisten membantah semua tuduhan kejahatan. Ia juga menampik keras segala bentuk keterlibatan dalam pelanggaran terkait Epstein. Hingga kini, Pangeran Andrew belum memberikan respons resmi terhadap permintaan komentar dari BBC mengenai tuduhan spesifik yang mencuat setelah jutaan dokumen Epstein dipublikasikan pada Januari. Sean Coughlan, koresponden BBC untuk lingkungan Istana Kerajaan, mengingatkan bahwa penangkapan ini tidak serta-merta membuktikan kesalahan, mengingat belum ada dakwaan resmi. Namun, Coughlan menekankan, insiden ini jelas menandai sebuah "keterpurukan yang sangat jauh dari kemegahan Istana Buckingham dan Istana Windsor."
Istana Buckingham dan Raja Charles III dilaporkan tidak menerima pemberitahuan awal mengenai penangkapan Pangeran Andrew, menurut informasi yang diterima BBC News. Menanggapi insiden yang menimpa adiknya, Raja Charles mengeluarkan pernyataan resmi yang berisi keprihatinan mendalam. Beliau menegaskan bahwa "proses yang utuh, adil, dan semestinya akan berjalan agar persoalan ini diselidiki dengan cara yang tepat dan oleh otoritas yang berwenang." Raja juga menekankan komitmennya untuk "memberikan dukungan dan kerja sama sepenuhnya," seraya menegaskan prinsip bahwa "hukum harus berjalan sebagaimana mestinya." Raja Charles memilih untuk tidak berkomentar lebih lanjut selama proses penyelidikan berlangsung, fokus pada tugas kerajaan.
Dari ranah politik, Wakil Perdana Menteri David Lammy turut bersuara, menggarisbawahi bahwa "tidak ada seorang pun di negara ini yang berada di atas hukum," sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri. Ia menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada penyelidikan polisi. Sementara itu, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memberikan komentarnya yang tajam. Trump menyebut penangkapan Pangeran Andrew sebagai "memalukan" dan "sangat menyedihkan." Ia bahkan memprediksi bahwa insiden ini akan "sangat buruk bagi keluarga kerajaan," seperti yang disampaikannya kepada wartawan di pesawat Air Force One.

