Internationalmedia.co.id – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menginstruksikan militer untuk segera melancarkan "serangan dahsyat" di Jalur Gaza. Perintah ini muncul di tengah tuduhan bahwa Hamas telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Keputusan ini diambil setelah konsultasi keamanan yang mendesak, menyusul tuduhan dari Israel bahwa Hamas tidak hanya melanggar gencatan senjata, tetapi juga terlibat dalam upaya untuk mengubur kembali jenazah sandera yang tersisa. Kementerian Luar Negeri Israel bahkan menuduh Hamas melakukan rekayasa penemuan jenazah palsu, yang mereka klaim didukung oleh rekaman drone.

"Hamas berbohong," tegas Kemlu Israel. "Mereka tahu di mana para sandera yang tersisa berada. Penggalian yang direkayasa tidak hanya merupakan penyiksaan, pelanggaran ini membahayakan gencatan senjata."
Di sisi lain, Hamas membantah keras tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai upaya "tak berdasar" untuk menyesatkan opini publik. Mereka balik menuduh Israel menghalangi upaya pemulangan jenazah tawanan Israel dengan menghalangi masuknya alat berat ke Gaza dan mencegah tim pencari, termasuk personel Palang Merah, mengakses area-area penting.
"Menanggapi hal ini, kami menyerukan kepada para mediator dan pihak penjamin untuk memikul tanggung jawab mereka dalam menghadapi hambatan serius ini," kata perwakilan Hamas.
Situasi ini semakin memperkeruh suasana di tengah upaya mediasi yang sedang berlangsung. Dengan perintah serangan yang telah dikeluarkan, masa depan gencatan senjata di Gaza kini berada di ujung tanduk. Akankah eskalasi konflik yang lebih besar tak terhindarkan?
