Internationalmedia.co.id – Pemerintah Peru mengambil langkah drastis dengan menetapkan status keadaan darurat di tengah gelombang demonstrasi berujung maut yang tak kunjung reda. Aksi protes yang dipicu oleh berbagai faktor, termasuk undang-undang pensiun kontroversial dan meningkatnya kejahatan terorganisir, telah mengguncang stabilitas negara Andean ini.
Gelombang demonstrasi yang didominasi oleh generasi Z telah berlangsung sejak akhir September 2025, dipicu oleh kebijakan pemerintah mantan Presiden Dina Boluarte yang mewajibkan kontribusi dana pensiun swasta di tengah ketidakpastian pekerjaan yang tinggi. Aksi protes semakin memanas dalam enam bulan terakhir akibat maraknya pemerasan dan pembunuhan oleh kelompok kriminal.

Pemakzulan Dina Boluarte pada 9 Oktober 2025, akibat tuduhan memperkaya diri secara ilegal dan kegagalan mengatasi krisis kejahatan, tidak mampu meredam amarah publik. Penggantinya, Jose Jeri, juga gagal menenangkan situasi, memicu demonstrasi lanjutan yang berujung ricuh di Lima pada 15 Oktober 2025.
Aksi protes yang melibatkan ribuan warga Peru, terutama kalangan muda, menuntut pemerintah bertindak tegas mengatasi krisis kejahatan yang semakin memburuk. Bentrokan antara demonstran dan polisi antihuru-hara menyebabkan ratusan orang terluka dan satu orang tewas, memicu kecaman dan tuntutan keadilan.
Kepala Kepolisian Peru, Jenderal Oscar Arriola, mengumumkan bahwa seorang polisi telah ditahan terkait kematian Eduardo Ruiz, seorang rapper berusia 32 tahun yang menjadi korban tewas pertama dalam unjuk rasa tersebut. Pemerintah Peru kini berupaya keras meredam situasi dan memulihkan ketertiban di tengah krisis yang melanda negara tersebut. internationalmedia.co.id akan terus memantau perkembangan situasi di Peru dan memberikan informasi terkini kepada pembaca.
