Internationalmedia.co.id – Israel dan Hamas terlibat dalam saling tuding terkait pelanggaran gencatan senjata di Jalur Gaza, menimbulkan kekhawatiran akan kelanjutan kesepakatan yang rapuh ini. Tel Aviv menuding Hamas belum sepenuhnya menyerahkan jenazah sandera sesuai perjanjian, sementara Hamas balik menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan aksi penembakan yang menyebabkan puluhan warga Palestina tewas.
Perselisihan mengenai penyerahan jenazah sandera ini berpotensi menggagalkan gencatan senjata Gaza dan elemen-elemen penting lainnya yang belum terselesaikan, termasuk perlucutan senjata Hamas dan tata kelola Gaza di masa depan.

Sesuai kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober, Hamas berkewajiban menyerahkan total 48 sandera, terdiri dari 20 sandera hidup dan 28 jenazah. Hamas telah menyerahkan 20 sandera yang masih hidup pada Senin (13/10), yang kemudian dibalas Israel dengan membebaskan 1.968 tahanan dan narapidana Palestina.
Namun, dari 28 jenazah sandera yang seharusnya diserahkan, Hamas baru menyerahkan sembilan jenazah. Ironisnya, satu jenazah yang diserahkan ternyata bukan sandera. Ini berarti masih ada 19 jenazah sandera yang belum diserahkan oleh Hamas.
Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menegaskan komitmen Israel terhadap perjanjian tersebut dan menuntut Hamas segera mengembalikan 19 jenazah sandera sesuai kesepakatan.
Di pihak lain, Hamas mengklaim telah menyerahkan semua jenazah sandera yang berhasil ditemukan. Mereka beralasan kesulitan menemukan jenazah lainnya karena banyak yang terkubur di terowongan yang hancur akibat serangan Israel, atau tertimbun reruntuhan di Jalur Gaza. Brigade Ezzedine Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, menyatakan bahwa penyerahan jenazah lebih lanjut membutuhkan alat berat dan peralatan penggalian yang harus diizinkan masuk ke Jalur Gaza yang diblokade Israel.
Pada Kamis (16/10), seorang pejabat senior Hamas menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan menewaskan sedikitnya 24 orang dalam serangkaian penembakan sejak Jumat (10/10). Daftar pelanggaran Israel telah diserahkan kepada mediator. "Negara pendudukan (Israel) bekerja siang dan malam untuk melemahkan perjanjian melalui pelanggaran-pelanggaran di lapangan," ujar pejabat Hamas tersebut.
Militer Israel belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Namun, sebelumnya Tel Aviv mengklaim pasukannya "melepaskan tembakan untuk meredakan ancaman" ketika sejumlah warga Palestina mengabaikan peringatan untuk tidak melanggar garis gencatan senjata di Jalur Gaza.
