Internationalmedia.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan akan melakukan kunjungan mendadak ke Israel dan Mesir pada akhir pekan ini. Kunjungan ini dilakukan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Trump dijadwalkan akan memberikan pidato di parlemen Israel, Knesset, dan menghadiri seremoni penandatanganan perjanjian gencatan senjata yang akan diselenggarakan di Mesir.
Kunjungan singkat ini dikonfirmasi langsung oleh Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat (10/10) waktu setempat. "Saya akan pergi ke Israel. Saya akan berpidato di Knesset, saya rasa, lebih awal, dan kemudian saya akan pergi ke Mesir. Mereka luar biasa," ujarnya.

Trump menjelaskan bahwa dirinya akan kembali ke Washington DC pada Selasa (14/10) malam. Kepulangannya ini terkait dengan pemberian medali kebebasan anumerta kepada mendiang Charlie Kirk, seorang aktivis konservatif AS yang meninggal dunia bulan lalu. Penghargaan tersebut akan diterima oleh istri mendiang Kirk, Erika.
Menurut laporan Reuters, Ketua parlemen Israel, Amir Ohana, telah mengundang Trump untuk berpidato di badan legislatif tersebut. Pidato ini akan menjadi yang pertama kalinya disampaikan oleh seorang Presiden AS sejak tahun 2008. Media lokal Israel melaporkan bahwa Trump dijadwalkan mendarat di Bandara Ben Gurion pada Senin (13/10) pagi, pukul 09.20 waktu setempat, dan akan disambut dengan upacara resmi sebelum bergegas ke gedung Knesset di Yerusalem.
Setelah kunjungannya di Israel, Trump akan melanjutkan perjalanan ke Mesir untuk menghadiri seremoni penandatanganan resmi kesepakatan gencatan senjata Gaza. Ia juga menyatakan akan bertemu dengan "banyak pemimpin" di Mesir untuk membahas masa depan Jalur Gaza. Pertemuan tersebut kemungkinan akan diadakan di Kairo.
Sebelumnya, Trump telah mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui tahap pertama dari rencana gencatan senjata Gaza yang diusulkannya. Tahap pertama ini mencakup penarikan awal pasukan Israel dari Jalur Gaza dan pembebasan sandera oleh Hamas dalam waktu 72 jam setelah penarikan pasukan selesai. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan ribuan tahanan Palestina. Tahap kedua dari gencatan senjata Gaza akan mencakup pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Jalur Gaza tanpa keterlibatan Hamas, pembentukan pasukan keamanan, dan perlucutan senjata Hamas.
