Internationalmedia.co.id melaporkan, Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, masih belum bisa melupakan insiden yang dialaminya saat menghadiri Sidang Umum PBB di New York. Kejadian tersebut, menurutnya, bukan sekadar kecelakaan biasa. Ia bahkan menuduh adanya sabotase terencana yang menarget dirinya.
Insiden yang dimaksud adalah serangkaian peristiwa yang terjadi pada Selasa (23/9) lalu. Pertama, eskalator yang akan dinaiki Trump dan istrinya tiba-tiba mati. Kemudian, teleprompter yang digunakannya untuk berpidato mengalami malfungsi selama 15 menit, membuatnya harus berpidato tanpa teks. Puncaknya, sistem suara di auditorium PBB juga dilaporkan mengalami gangguan.

Dua hari berselang, Trump kembali menyuarakan kemarahannya melalui platform Truth Social. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai "triple sabotage" atau sabotase rangkap tiga, dan menuntut penyelidikan menyeluruh. "Ini bukan kebetulan, ini sabotase! Mereka seharusnya malu," tulisnya.
Trump bahkan telah mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, menuntut penyelidikan segera. Ia pun tak segan menyindir kinerja PBB. "Tidak heran PBB belum mampu melaksanakan tugasnya," sindirnya.
Lebih lanjut, Trump menggambarkan insiden eskalator sebagai potensi bencana. "Sungguh menakjubkan bahwa Melania dan saya tidak jatuh," ujarnya. Ia pun meminta agar rekaman keamanan eskalator disimpan dan meminta Secret Service, dinas rahasia AS, untuk terlibat dalam investigasi dugaan sabotase tersebut. "Secret Service terlibat," tegasnya. Kejadian ini pun menimbulkan pertanyaan besar: siapakah dalang di balik dugaan sabotase tersebut?
