Berita mengejutkan datang dari Jerman. Berbeda dengan Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal yang baru-baru ini mengakui negara Palestina, Jerman tetap pada pendiriannya. Informasi ini didapat Internationalmedia.co.id dari laporan AFP. Pengakuan sejumlah negara tersebut bertujuan meningkatkan tekanan pada Israel terkait konflik Gaza yang telah menelan banyak korban jiwa.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan bahwa Jerman hanya akan mengakui negara Palestina setelah tercapainya solusi dua negara melalui negosiasi antara Israel dan Palestina. Menurutnya, solusi dua negara merupakan satu-satunya jalan agar warga Israel dan Palestina dapat hidup berdampingan secara damai dan aman. "Bagi Jerman, pengakuan negara Palestina lebih penting di akhir proses, tetapi proses ini harus dimulai sekarang," tegas Wadephul.

Sikap Jerman ini bertolak belakang dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu mengakui Palestina. Israel sendiri menganggap pengakuan negara Palestina sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas. Di tengah situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di Gaza, bahkan telah dideklarasikan bencana kelaparan oleh PBB, Jerman tetap berpegang teguh pada prinsip solusi dua negara yang dinegosiasikan.
Meskipun demikian, Jerman mengakui telah meningkatkan kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza dan dampaknya terhadap warga sipil Palestina. Komitmen Jerman terhadap Israel tetap kuat, mengingat sejarah Holocaust, namun perkembangan situasi di Gaza telah memaksa Jerman untuk mempertimbangkan kembali posisinya. Pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB di New York pekan ini, yang akan membahas masa depan Palestina, menjadi sorotan dunia. Bagaimana sikap Jerman selanjutnya akan terus menjadi perhatian internasional.
