Internationalmedia.co.id melaporkan tragedi mengerikan yang terjadi di Kongo. Lebih dari 50 warga sipil tewas dibantai secara brutal saat menghadiri acara pemakaman di wilayah timur negara tersebut. Serangan keji ini dilakukan oleh kelompok pemberontak ADF, yang berafiliasi dengan ISIS, pada Senin malam waktu setempat.
Informasi yang dihimpun internationalmedia.co.id dari pernyataan pejabat pemerintah lokal, Macaire Sivikunula, menyebutkan bahwa para pelaku menggunakan parang dalam aksi pembantaian di desa Ntoyo, wilayah Lubero, Provinsi Kivu Utara. Sivikunula menyebut angka sementara korban tewas mencapai 50 orang, namun pencarian korban masih terus dilakukan. "Mereka diserang saat acara duka berlangsung sekitar pukul 21.00 waktu setempat," ungkap Sivikunula.

Kolonel Alain Kimewa, pejabat administrasi militer wilayah Lubero, memberikan angka yang sedikit berbeda, sekitar 60 korban jiwa, dengan kemungkinan bertambah mengingat masih adanya korban hilang. Lebih lanjut, Samuel Kagheni, tokoh masyarakat setempat, menambahkan bahwa selain menggunakan parang, para pelaku juga menembak beberapa korban dan membakar kendaraan. Alain Kahindo Kinama, warga setempat, menuturkan bahwa tentara Kongo tiba di lokasi kejadian pada Selasa pagi dan banyak warga berusaha meninggalkan daerah tersebut.
Letnan Marc Elongo, juru bicara militer Kongo, menyebut serangan tersebut sebagai "pembantaian" yang dilakukan ADF. Serangan ini terjadi di tengah intensifikasi operasi militer gabungan antara militer Kongo dan Uganda terhadap ADF dalam beberapa pekan terakhir. ADF, yang awalnya merupakan kelompok pemberontak dari Uganda, telah bermarkas di Kongo sejak akhir 1990-an dan dikenal karena aksi brutalnya yang telah menewaskan puluhan warga sipil dalam beberapa bulan terakhir. Serangan-serangan ini semakin memperburuk situasi keamanan di wilayah timur Kongo yang kaya akan mineral, yang juga menjadi lokasi konflik dengan kelompok pemberontak M23. Kekejaman ADF ini menambah daftar panjang penderitaan warga sipil di tengah konflik bersenjata yang tak kunjung usai di Kongo.
