Pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mendukung visi "Israel Raya" dan mencaplok sejumlah negara Arab, menuai kecaman internasional. Internationalmedia.co.id melaporkan, pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu kepada wartawan i24NEWS, Sharon Gal, pada Selasa (12/8) lalu. Ketika ditanya soal dukungannya terhadap visi tersebut, Netanyahu menjawab tegas, "Tentu saja. Jika Anda bertanya kepada saya mengenai apa yang saya pikirkan, kami siap."
Pernyataan ini langsung memicu gelombang protes dari berbagai negara Arab. Yordania, misalnya, menyebut pernyataan Netanyahu sebagai "eskalasi berbahaya dan provokatif," serta "ancaman terhadap kedaulatan negara-negara." Mesir juga memberikan reaksi keras, meminta klarifikasi dan menilai pernyataan tersebut sebagai "penolakan terhadap opsi perdamaian di kawasan." Irak menyebutnya sebagai "ambisi ekspansionis" dan "provokasi yang jelas," sementara Qatar menyebutnya "absurd" dan "menghasut." Arab Saudi pun menyatakan "penolakan total terhadap gagasan dan rencana kolonisasi dan ekspansi" tersebut.

"Israel Raya," yang merujuk pada wilayah kekuasaan Raja Salomo, mencakup tidak hanya wilayah Palestina saat ini (termasuk Jalur Gaza dan Tepi Barat), tetapi juga sebagian wilayah Yordania, Lebanon, dan Suriah modern. Ambisi ini semakin diperkuat oleh pernyataan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang menuntut penaklukan Jalur Gaza dan aneksasi Tepi Barat.
Indonesia turut mengecam keras rencana tersebut. Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan penolakan terhadap visi "Israel Raya" melalui aneksasi wilayah Palestina dan negara-negara lain. Kemlu menegaskan bahwa visi tersebut melanggar hukum internasional dan semakin memperkecil peluang perdamaian di Timur Tengah. Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menolak aneksasi dan pendudukan permanen oleh Israel serta mengambil langkah konkret untuk menghentikan kebijakan yang merusak perdamaian. Indonesia juga menekankan pentingnya menegakkan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan hidup berdampingan dengan Israel berdasarkan solusi dua negara. Pernyataan Netanyahu ini disampaikan di tengah perang antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung selama 22 bulan, semakin memperkeruh situasi di Timur Tengah.

