Suhu udara di Jepang menyentuh angka fantastis. Internationalmedia.co.id melaporkan, Kota Isesaki mencatat rekor suhu tertinggi baru, mencapai 41,8 derajat Celcius pada Selasa (5/8) waktu setempat. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat di Hyogo, 41,2 derajat Celcius. Badan cuaca Jepang memperingatkan potensi kenaikan suhu lebih lanjut.
Gelombang panas ekstrem ini bukan fenomena sesaat. Musim panas tahun lalu menjadi yang terpanas sepanjang sejarah pencatatan, menyamai rekor tahun 2023. Bahkan musim gugur lalu juga tercatat sebagai yang terhangat dalam 126 tahun terakhir. Kyoto, destinasi wisata populer, juga merasakan dampaknya dengan suhu mencapai 40 derajat Celcius pekan lalu – sebuah rekor baru untuk kota tersebut.

Perubahan iklim turut berperan besar. Pohon sakura, ikonik Jepang, mekar lebih awal atau bahkan gagal mekar sempurna akibat musim dingin yang tidak cukup dingin. Lapisan salju di Gunung Fuji pun muncul lebih lambat dari biasanya tahun lalu. Juli 2024 menjadi bulan terpanas sejak 1898, dengan suhu rata-rata bulanan 2,89 derajat Celcius di atas rata-rata periode 1991-2020.
Dampaknya meluas ke sektor pertanian. Kekurangan air di bendungan dan sawah mengganggu penanaman padi. Curah hujan Juli juga rendah di sebagian besar wilayah, bahkan mencatat rekor terendah di wilayah utara yang menghadap Laut Jepang. Musim penghujan di Jepang barat berakhir tiga pekan lebih cepat dari biasanya.
Pemerintah Jepang mengimbau masyarakat untuk berlindung dari panas terik, terutama warga lanjut usia yang rentan terhadap sengatan panas. Gelombang panas ini menjadi peringatan serius atas dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

