Aksi demonstrasi besar-besaran mengguncang Sydney, Australia. Internationalmedia.co.id melaporkan, puluhan ribu warga Australia, termasuk pendiri WikiLeaks, Julian Assange, turun ke jalan menuntut penghentian konflik di Gaza. Jembatan Pelabuhan Sydney, ikon kota tersebut, bahkan ditutup sementara karena membludaknya massa yang berunjuk rasa.
Assange, yang baru saja kembali ke Australia setelah bebas dari penjara Inggris, terlihat berpartisipasi aktif dalam demonstrasi tersebut bersama keluarga dan mantan Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr. Para demonstran menerjang hujan dan angin kencang, meneriakkan yel-yel seperti "Gencatan Senjata Sekarang!" dan "Bebaskan Palestina!". Kepolisian New South Wales mengerahkan ratusan personel untuk mengamankan jalannya demonstrasi.

Senator Mehreen Faruqi dari Partai Hijau menyebut demonstrasi ini sebagai aksi bersejarah. Ia menyerukan sanksi tegas terhadap Israel dan mengecam tindakan militer Israel di Gaza. Sikapnya ini bertolak belakang dengan Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, yang sebelumnya menyatakan protes tersebut seharusnya dihentikan.
Lebih dari itu, puluhan demonstran membawa spanduk bertuliskan nama ribuan anak Palestina yang menjadi korban konflik. Anggota parlemen dari Partai Buruh, Ed Husic, juga turut hadir dan mendesak agar pemerintah Australia, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese, mengakui negara Palestina.
Desakan internasional untuk mengakhiri konflik di Gaza semakin menguat. Prancis, Inggris, dan Kanada telah menyatakan niat untuk mengakui negara Palestina. Australia sendiri telah menyerukan penghentian perang, namun belum memutuskan untuk mengakui Palestina sebagai negara. Meski demikian, Australia telah menyatakan "kesediaan atau pertimbangan positif" untuk mengakui negara Palestina sebagai langkah penting menuju solusi dua negara.
Konflik di Gaza telah menewaskan lebih dari 60.000 warga Palestina. Israel mengklaim serangan besar-besaran tersebut sebagai balasan atas serangan Hamas pada tahun 2023 yang menewaskan 1.219 warga Israel. Dari 251 sandera yang diculik saat serangan Hamas, 49 masih ditahan di Gaza, termasuk 27 yang dikonfirmasi tewas oleh militer Israel.

