Internationalmedia.co.id melaporkan kabar mengejutkan dari Kamboja. Negara di Asia Tenggara ini secara resmi menominasikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk penghargaan Nobel Perdamaian. Langkah berani ini diambil menyusul peran aktif Trump dalam meredakan konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand.
Wakil Perdana Menteri Kamboja, Sun Chanthol, membenarkan kabar tersebut melalui pesan singkat kepada Reuters. Dalam pernyataan sebelumnya kepada wartawan di Phnom Penh, Chanthol menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Trump atas kontribusinya dalam membawa perdamaian. Ia menilai Trump pantas mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut atas jasanya dalam memajukan persahabatan antarbangsa.

Pencalonan Trump ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Pakistan juga telah merekomendasikan Trump untuk Nobel Perdamaian atas perannya dalam menyelesaikan konflik dengan India. Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, pun turut mencalonkan Trump untuk penghargaan yang sama.
Peran Trump dalam mengakhiri konflik Kamboja-Thailand yang berlangsung selama satu dekade terakhir menjadi sorotan. Seruannya berhasil memecah kebuntuan, menghasilkan gencatan senjata yang disepakati dalam pertemuan kedua negara di Malaysia. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahkan langsung menyatakan dukungannya, menyerukan agar Trump diberikan Nobel Perdamaian.
Konflik tersebut menewaskan sedikitnya 43 orang dan memaksa lebih dari 300.000 warga mengungsi. Chanthol pun kembali menegaskan apresiasinya atas upaya besar Trump untuk perdamaian, termasuk atas penurunan tarif impor AS untuk produk Kamboja dari ancaman 49 persen menjadi 36 persen, yang menyelamatkan sektor garmen dan alas kaki negara tersebut. Langkah ini dinilai sangat krusial bagi perekonomian Kamboja. Nominasi ini tentu akan memicu perdebatan panjang di dunia internasional.
