Israel akhirnya mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui jalur udara. Pengiriman ini menyusul gelombang kecaman internasional yang deras terkait krisis kemanusiaan dan kelaparan yang semakin parah di wilayah tersebut. Internationalmedia.co.id melaporkan, langkah Israel ini juga dibarengi dengan rencana pembukaan koridor kemanusiaan.
Sebelumnya, Israel memberlakukan blokade total terhadap Gaza sejak Maret 2025 setelah perundingan gencatan senjata menemui jalan buntu. Meskipun sedikit bantuan sempat diizinkan masuk pada akhir Mei, tekanan internasional terus meningkat seiring dengan laporan peningkatan jumlah korban jiwa warga Palestina akibat serangan dan penembakan Israel. Bahkan, beberapa korban dilaporkan tewas saat menunggu di dekat pusat distribusi bantuan.

Tujuh paket bantuan udara dikirimkan Israel sebagai respons atas tekanan tersebut. Pihak berwenang Israel mengklaim pengiriman ini bertujuan untuk memperbaiki situasi kemanusiaan dan membantah tudingan kelaparan yang disengaja di Jalur Gaza. Klaim ini diiringi pengumuman pembukaan koridor kemanusiaan untuk konvoi bantuan PBB guna menyalurkan makanan dan obat-obatan. Kementerian Luar Negeri Israel juga menambahkan akan menerapkan jeda kemanusiaan di beberapa wilayah Gaza untuk memfasilitasi distribusi bantuan.
Sementara itu, dari sisi lain perbatasan, puluhan truk bantuan dari Mesir dilaporkan mulai bergerak menuju perlintasan Karam Abu Salem (Kerem Shalom) di Gaza selatan. Kondisi ini menjadi gambaran nyata krisis kemanusiaan yang melanda 2,2 juta penduduk Gaza. Organisasi bantuan internasional telah memperingatkan akan terjadinya kelaparan massal akibat pemutusan pasokan makanan oleh Israel pada Maret lalu, meskipun pasokan kemudian kembali dibuka dengan pembatasan ketat. Israel sendiri membantah tuduhan tersebut, mengatakan pasokan makanan cukup tersedia namun menyalahkan PBB atas kegagalan distribusi. PBB membalas dengan menyatakan mereka telah beroperasi seefisien mungkin dalam kondisi pembatasan yang diberlakukan Israel. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah pengiriman bantuan ini merupakan langkah proaktif Israel atau hanya reaksi atas tekanan internasional yang semakin kuat?

