Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pembicaraan telepon membahas situasi Suriah yang semakin memanas. Kremlin, kantor kepresidenan Rusia, menyatakan kedua pemimpin mengungkapkan keprihatinan mendalam atas peningkatan kekerasan di Suriah dan menekankan pentingnya stabilisasi situasi melalui dialog. Pernyataan tersebut dirilis kantor berita AFP pada Sabtu (18/7/2025).
Konflik di Suriah meningkat tajam setelah serangan udara Israel yang diduga melibatkan drone menargetkan Damaskus. Serangan ini terjadi setelah bentrokan mematikan antara pejuang Druze dan Bedouin di wilayah selatan Suriah. Militer Israel, seperti dikutip internationalmedia.co.id dari berbagai sumber, menyatakan terus memantau situasi dan melakukan serangan sebagai respons atas perkembangan di lapangan, termasuk melindungi warga sipil Druze. Mereka bahkan memperkuat pasukan di perbatasan Suriah.

Televisi pemerintah Suriah melaporkan adanya korban sipil akibat serangan udara tersebut. Bentrokan antara Druze dan Bedouin di Suweida, yang mayoritas penduduknya Druze, telah menewaskan puluhan orang sejak Minggu (13/7/2025). Pasukan keamanan Suriah yang dikerahkan untuk meredakan konflik justru bentrok dengan milisi Druze, semakin memperkeruh situasi. Israel berdalih melindungi komunitas Druze sebagai alasan serangannya. Gencatan senjata yang diumumkan sebelumnya pun gagal bertahan lama, memicu eskalasi konflik. Situasi ini mendorong Israel untuk meningkatkan serangannya dan memperkuat pasukan perbatasan. Pembicaraan Putin-Erdogan diharapkan dapat meredakan ketegangan dan mencari solusi damai untuk konflik yang kompleks ini.
