Internationalmedia.co.id melaporkan insiden yang menghebohkan dunia maritim. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menenggelamkan sebuah kapal kargo di Laut Merah. Klaim ini mengejutkan, mengingat kelompok tersebut sebelumnya menyatakan penghentian serangan di perairan strategis tersebut pada Desember 2024.
Pernyataan resmi Houthi, yang dikutip oleh berbagai media internasional, menyebutkan serangan dilakukan pada Minggu (6/7). Mereka menggunakan kombinasi senjata, roket, dan perahu tak berawak yang dikendalikan dari jarak jauh untuk menargetkan kapal berbendera Liberia bernama Magic Seas. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, bahkan menayangkan video yang menunjukkan serangan tersebut di televisi lokal. Saree mengklaim telah memberikan peringatan kepada awak kapal sebelum melancarkan serangan, namun peringatan tersebut diabaikan. Ia menyebut kapal tersebut diserang menggunakan dua perahu tak berawak, lima rudal, dan tiga drone.

Informasi yang beredar menyebutkan kapal kargo tersebut dioperasikan oleh perusahaan Yunani, Stem Shipping, dan membawa muatan besi dan pupuk dari China menuju Turki. Meskipun Houthi mengklaim telah menyelamatkan seluruh 19 awak kapal, pihak Stem Shipping dan otoritas Uni Emirat Arab memberikan angka yang sedikit berbeda, yaitu 22 orang. Mereka menyatakan seluruh awak kapal berhasil diselamatkan oleh kapal dagang lain dan diperkirakan tiba di Djibouti pada Senin (7/7).
Insiden ini menandai berakhirnya periode tenang selama enam bulan di Laut Merah, jalur pelayaran tersibuk di dunia. Pada tahun 2024, Houthi telah melancarkan lebih dari 100 serangan, menenggelamkan setidaknya dua kapal dan menyita satu kapal lainnya. Serangan-serangan tersebut, yang diklaim sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina, sempat mengganggu lalu lintas pelayaran antara Eropa dan Asia melalui Terusan Suez. Kini, muncul pertanyaan besar: apakah ini awal dari eskalasi konflik di Laut Merah? Verifikasi independen atas klaim Houthi masih terus dilakukan.
