Serangan udara Israel yang gencar di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 60 warga sipil, jelang perundingan gencatan senjata yang diprakarsai Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id mengutip laporan Reuters, Senin (30/6/2025), bahwa pejabat Israel akan terbang ke Washington untuk berunding. Menteri urusan strategis Israel, Ron Dermer, dipercaya akan memimpin delegasi untuk membahas konflik Gaza dan isu Iran dengan pemerintahan AS. Pertemuan dijadwalkan berlangsung Selasa (1/7/2025).
Ironisnya, sementara perundingan gencatan senjata di depan mata, bom Israel terus berjatuhan. Militer Israel bahkan mengeluarkan perintah evakuasi massal di distrik-distrik utara Gaza, memicu gelombang pengungsian baru. "Ledakan tak pernah berhenti, mereka membom sekolah dan rumah. Rasanya seperti gempa bumi," ungkap Salah, seorang ayah lima anak dari Kota Gaza, menggambarkan kepanikan yang melanda.

Kesaksian pilu juga datang dari Amani Swalha, seorang pengungsi. "Di berita, kita mendengar gencatan senjata sudah dekat, tapi di lapangan kita melihat kematian dan mendengar ledakan. Lihatlah kami, kami bukan hanya angka dan bukan hanya gambar. Setiap hari kami menjadi martir," ujarnya.
Serangan brutal tak hanya dari udara. Tank-tank Israel juga bergerak maju ke wilayah timur Zeitoun, Kota Gaza, menembaki beberapa wilayah di utara. Empat sekolah yang menjadi tempat berlindung ratusan keluarga juga dibombardir setelah sebelumnya warga diperintahkan untuk mengungsi.
Otoritas kesehatan Gaza melaporkan 58 korban tewas pada Senin, termasuk 10 di Zeitoun dan sedikitnya 13 di barat daya Kota Gaza. Petugas medis menyatakan sebagian besar dari 13 korban tewas tersebut akibat tembakan, namun penduduk juga melaporkan adanya serangan udara. Tragedi lain terjadi di sebuah kafe tepi pantai, di mana 22 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan seorang jurnalis, tewas akibat serangan udara Israel. Persatuan Jurnalis Palestina mencatat lebih dari 220 jurnalis telah tewas di Gaza sejak perang dimulai Oktober 2023.
Militer Israel mengklaim serangan mereka menarget militan Hamas, termasuk pusat komando dan kendali, seraya menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk meminimalisir korban sipil. Namun, klaim tersebut tak didukung bukti langsung terkait korban di barat daya Gaza dan kafe tepi pantai. Serangan ini terjadi setelah perintah evakuasi di wilayah utara, yang sebelumnya telah mengalami kerusakan besar akibat operasi militer Israel. Militer Israel menyatakan akan memerangi militan Hamas di Gaza utara, termasuk di jantung Kota Gaza.
