Ribuan demonstran membanjiri Bangkok, ibu kota Thailand, Sabtu (28/6), menuntut pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Paetongtarn Shinawatra. Internationalmedia.co.id melaporkan, aksi ini dipicu oleh kebocoran rekaman percakapan telepon PM dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, yang memicu kemarahan publik.
Partai Bhumjaithai, mitra koalisi terbesar kedua, telah menarik dukungannya, menuduh PM berusia 38 tahun itu tunduk pada pengaruh Kamboja dan melemahkan posisi militer Thailand. Sekitar 4.000 demonstran, sebagian besar berusia lanjut dan dipimpin aktivis veteran "Yellow Shirt", memenuhi jalan-jalan sekitar Monumen Kemenangan. Mereka, yang banyak di antaranya melakukan perjalanan jauh untuk berpartisipasi, menyatakan keprihatinan atas kedaulatan negara.

Seri Sawangmue, seorang pengunjuk rasa berusia 70 tahun, mengungkapkan kekhawatirannya. "Setelah mendengar rekaman panggilan telepon itu, saya tahu saya tidak bisa mempercayainya," ujarnya. "Dia bersedia menyerahkan kedaulatan kita," tambahnya.
Dalam rekaman percakapan tanggal 15 Juni yang bocor, Paetongtarn terdengar meminta Hun Sen, yang ia panggil ‘paman’, untuk menyelesaikan sengketa wilayah secara damai dan mengabaikan "pihak lain" di Thailand, termasuk seorang jenderal militer yang disebutnya sebagai "lawannya." Meskipun Paetongtarn mengklaim pernyataannya sebagai bagian dari taktik negosiasi, aksi protes tetap berlanjut.
Mahkamah Konstitusi akan memutuskan pada Selasa mendatang apakah akan menerima petisi pencopotan Paetongtarn atas tuduhan ketidakprofesionalan. Di hari yang sama, ayahnya, Thaksin Shinawatra, akan diadili atas tuduhan pencemaran nama baik kerajaan. Paetongtarn sendiri baru menjabat kurang dari setahun, setelah pendahulunya didiskualifikasi dan ayahnya kembali dari pengasingan selama 15 tahun. Situasi politik Thailand kini berada di ujung tanduk.
