internationalmedia.co.id – Langkah besar diambil oleh AirNav Indonesia dalam upaya memodernisasi sistem navigasi penerbangan nasional. Perusahaan penyedia layanan navigasi udara ini baru saja menunjukkan taringnya di kancah internasional dengan memamerkan berbagai inovasi teknologi mutakhir dalam ajang Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM). Acara bergengsi tersebut diselenggarakan oleh United States Trade and Development Agency (USTDA) yang bertempat di Arlington, Virginia, Amerika Serikat.
Dalam forum global tersebut, AirNav Indonesia memaparkan strategi besar mereka dalam menghadapi tantangan ruang udara yang semakin kompleks. Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap, menegaskan bahwa pengembangan teknologi saat ini difokuskan untuk menjawab kebutuhan operasional yang spesifik di wilayah kepulauan Indonesia. Fokus utamanya meliputi pertukaran informasi penerbangan yang lebih cepat, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga sistem pemantauan gangguan sinyal satelit.

"Mengelola navigasi di negara kepulauan menuntut kita untuk terus beradaptasi dengan teknologi. Kami tidak hanya menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (CNS) yang sudah ada, tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan AI. Hal ini penting untuk menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis," ungkap Zainal dalam keterangan resminya.
Sebagai gambaran betapa krusialnya peran AirNav, perusahaan ini mengelola dua wilayah Flight Information Region (FIR), yakni FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang. Dengan luas wilayah mencapai 7,79 juta kilometer persegi, AirNav menangani sekitar 5.000 penerbangan setiap harinya. Selain itu, wilayah operasional mereka berbatasan langsung dengan 10 FIR milik negara tetangga, sehingga koordinasi lintas batas dan keandalan sistem menjadi harga mati.
Salah satu primadona teknologi yang diperkenalkan adalah sistem Flight and Flow Information for a Collaborative Environment (FF-ICE). Teknologi ini dirancang untuk memperlancar pertukaran informasi penerbangan secara global. Sebelumnya, sistem ini telah sukses didemonstrasikan dalam konferensi internasional di Hanoi, Vietnam.
Tak hanya itu, AirNav juga menggandeng Telkom University untuk mengembangkan sistem penyusunan Notice to Airmen (NOTAM) berbasis AI. Dengan memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM), sistem ini mampu mengubah input bahasa manusia biasa menjadi format NOTAM yang terstandarisasi secara otomatis. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kecepatan penyampaian informasi penting bagi seluruh komunitas penerbangan.
Di sisi keamanan sinyal, AirNav memperkenalkan GNSS Radio Frequency Interference Monitoring. Sistem ini bekerja secara real-time untuk memantau gangguan frekuensi radio pada sinyal navigasi satelit. Teknologi ini mampu mengidentifikasi indikasi gangguan, memetakan lokasinya secara akurat, dan memberikan peringatan dini guna menjaga keselamatan operasional.
Selain inovasi digital, AirNav juga tengah menjajaki pengembangan Remote/Digital Tower untuk bandara dengan kepadatan lalu lintas rendah, serta Satellite-Based Augmentation System (SBAS) yang akan meneliti karakteristik ionosfer di wilayah ekuator. Melalui forum di Amerika Serikat ini, AirNav berharap dapat membuka peluang kolaborasi riset dan uji coba teknologi guna memastikan standar keselamatan penerbangan Indonesia tetap selaras dengan standar global.
