Bandung, Jawa Barat – Lapas Kelas I Sukamiskin, sebuah situs bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tipe A sejak tahun 2010, kini menawarkan pengalaman unik bagi para penikmat sejarah. Di balik tembok-tembok kokoh peninggalan era kolonial, tersimpan sebuah sel yang menjadi saksi bisu perjuangan proklamator bangsa, Ir. Sukarno. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, sel nomor 233 di Blok Timur lapas ini kini dapat dikunjungi secara gratis, membuka lembaran baru bagi pariwisata sejarah di Indonesia.
Kasubbag Kepegawaian Lapas Sukamiskin, Jajang Sulton, menjelaskan kepada internationalmedia.co.id belum lama ini, "Terkait dengan masalah bangunan ini, kebetulan kami (Sukamiskin) ditetapkan heritage tipe A yang memang di 2010. Kemudian ketika ada perubahan-perubahan fundamental terkait bangunan itu memang harus ada izin dari tim ahli cagar budaya Dinas Pariwisata Kota Bandung." Penjelasan ini menegaskan komitmen Lapas Sukamiskin dalam menjaga keaslian arsitektur dan nilai historisnya.

Sel 233, yang kini dikenal sebagai Kamar Nomor 1 Blok Timur Atas, bukan sekadar ruang tahanan biasa. Di sinilah Bung Karno, sebelum kemerdekaan, dipenjara oleh Pemerintah Belanda karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dianggap mengancam. Lebih dari sekadar tempat pengasingan, kamar berukuran sekitar 3×2 meter persegi ini menjadi saksi bisu lahirnya pemikiran-pemikiran revolusioner, termasuk penyusunan dan penyempurnaan pledoi legendarisnya, ‘Indonesia Menggugat’.
Jajang Sulton dengan bangga menyatakan bahwa Lapas Sukamiskin merupakan ‘lapas pariwisata pertama’ di Tanah Air. Sejauh ini, pengunjung didominasi oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang datang untuk penelitian atau sekadar napak tilas sejarah. "Yang berkunjung ke sini mayoritas ya mahasiswa, murid-murid SMP, SMA," ujarnya.
Untuk dapat mengunjungi kamar Bung Karno, calon pengunjung diwajibkan untuk mengajukan surat izin terlebih dahulu ke Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Jawa Barat. Proses perizinan ini, menurut Jajang, cukup cepat. "Jika kanwil sudah beri izin, maka informasinya diteruskan ke kami. Proses izinnya sebentar, kalau ditunggu juga kadang bisa, sehari pun bisa," jelasnya, menandakan kemudahan akses bagi mereka yang berminat.
Meskipun terbuka untuk pariwisata, pihak lapas tetap menjaga ketat sisi pengamanan dan sterilisasi. Pengunjung hanya diperkenankan menjelajah ke Kamar Bung Karno di Blok Timur Kamar 233, demi pertimbangan keamanan dan ketertiban lapas. Yang menarik, tidak ada biaya masuk yang dikenakan kepada wisatawan. "Nggak ada tiket masuk, gratis, terutama bagi mahasiswa yang PKL atau penelitian, dipersilakan. Kita tidak pungut biaya pengunjung karena kita terbentur dengan wilayah zona integritas," tegas Jajang. Kebijakan ini sejalan dengan upaya menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) yang mengharuskan semua layanan diberikan secara cuma-cuma, bahkan parkir pun tidak berbayar.
Demi kenyamanan dan keleluasaan pengunjung, pihak lapas membatasi jumlah orang yang masuk ke dalam sel Bung Karno, yakni maksimal lima orang dalam satu waktu. "Karena kamar tidak terlalu luas, paling nyaman per lima orang yang masuk," kata Jajang. Waktu berkunjung di dalam kamar pun fleksibel, tidak dibatasi. Kondisi sel sendiri dijaga keasliannya sejak dulu, tanpa perubahan signifikan. Hanya ditambahkan buku-buku terkait Bung Karno di meja dan pewangi ruangan untuk kenyamanan pengunjung.
Petugas jaga dan keamanan lapas telah dibekali wawasan mendalam mengenai sejarah keberadaan Bung Karno di Sukamiskin. Mereka siap menjadi pemandu bagi wisatawan, menjelaskan setiap detail perjuangan Sang Proklamator di balik jeruji besi. "Pegawai-pegawai kami sudah kami beri wawasan, sudah membaca silabusnya lah mengenai kamar Bung Karno," pungkas Jajang, menjamin pengalaman edukatif bagi setiap pengunjung.
Baik Dinas Pariwisata Kota Bandung maupun pihak Lapas Sukamiskin memiliki komitmen kuat untuk memelihara keaslian sel Bung Karno ini. Tempat ini bukan hanya sekadar ruang tahanan, melainkan sebuah ruang museum sejarah dan napak tilas yang tak ternilai harganya, menjadi pengingat abadi akan semangat perjuangan Sang Proklamator bagi generasi penerus bangsa.
