Internationalmedia.co.id – News – Misteri di balik tantangan hafalan Al-Qur’an yang ditukar dengan minuman keras saat konser The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara, mulai terkuak. Kepolisian Daerah Metro Jaya mengonfirmasi bahwa inisiatif kontroversial tersebut berasal dari seorang pengunjung festival, bukan dari pihak penyelenggara atau sponsor.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi individu yang diduga melakukan tantangan tersebut. "Berdasarkan penyelidikan awal, yang bersangkutan diduga merupakan pengunjung yang secara spontan mengambil mikrofon dan membuat tantangan," jelas Kombes Iman kepada internationalmedia.co.id pada Rabu (12/8/2026). Identitas lengkap pelaku masih dirahasiakan karena proses penyelidikan yang intensif masih berlangsung.

Penyidik juga telah meminta keterangan dari berbagai pihak, termasuk manajemen acara, penyelenggara kegiatan, pemilik merek minuman, serta sejumlah pengunjung yang menyaksikan peristiwa tersebut. Lokasi kejadian di Ecopark, Ancol, juga telah dicek untuk melengkapi data penyelidikan. Kombes Iman menegaskan, Polri bersikap proaktif dalam menangani kasus ini, berdasarkan laporan masyarakat dan informasi yang berkembang di ruang publik. Kasus ini berpotensi dijerat Pasal 300 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, namun penerapan pasal akan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pihak terkait, keterangan para saksi, dan alat bukti yang diperoleh.
Pihak penyelenggara, The Sounds Project, melalui akun Instagram resminya, menyatakan kemarahan dan kekecewaan mendalam atas insiden tersebut. Mereka menegaskan tidak pernah menyetujui atau mengarahkan aktivitas yang menjadikan agama sebagai alat promosi atau tantangan dalam bentuk apa pun. "Kami telah menegur pihak sponsor terkait dan meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini hingga tuntas," tulis The Sounds Project, sembari berjanji akan mengawal kasus dan mengidentifikasi pihak yang terlibat langsung agar dapat dimintai pertanggungjawaban. Evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Senada, Direktur Newport, Handoko Sasongko, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat muslim, tokoh agama, dan masyarakat Indonesia atas kegaduhan yang terjadi. Handoko menegaskan bahwa aktivitas tersebut sama sekali bukan bagian dari program, konsep promosi, tantangan, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport. "Aktivitas tersebut murni muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi," ujarnya. Meskipun demikian, Newport mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan di lapangan, yang menyebabkan situasi tidak terkendali saat seorang pengunjung mengambil alih mikrofon dari MC. Pihaknya sangat menyesalkan insiden tersebut dan berkomitmen untuk menghormati nilai-nilai agama serta sensitivitas yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Penyelidikan kasus ini terus bergulir, dengan kepolisian bertekad untuk menuntaskan perkara ini secara transparan dan adil.
