Internationalmedia.co.id – News – Sebuah proyek trotoar di Jalan Raya Sawangan, Depok, Jawa Barat, yang menelan anggaran fantastis miliaran rupiah, kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, fasilitas pejalan kaki tersebut dilaporkan amblas hanya dalam kurun waktu setahun setelah rampung. Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai kualitas pembangunan dan pengawasan proyek infrastruktur di kota tersebut, terutama setelah Pemerintah Kota Depok harus kembali menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk perbaikan.
Trotoar yang baru setahun diresmikan itu kini menunjukkan kerusakan parah. Pantauan tim internationalmedia.co.id di lokasi, Minggu (2/8), menunjukkan bagian trotoar telah ambles ke arah sungai dan ditutupi terpal biru. Pembatas kayu, traffic cone, serta garis kuning dipasang untuk mencegah warga melintas, mengingat potensi bahaya yang mengancam. Warga sekitar, Hendra, mengungkapkan keheranannya. "Saya kaget saja, kalau sampai trotoar ini ambles. Saya nyangkanya itu belum selesai. Ternyata dapat informasi dari warga sekitar ini ambles. Ini dananya lumayan loh, Rp 9,7 miliar sampai ambles kayak gitu kan berarti ada something gitu loh yang nggak bisa diungkapkan," ujarnya, menyiratkan dugaan adanya kejanggalan dalam proyek tersebut.

Menanggapi insiden ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok, Yodi Joko Bintoro, menjelaskan bahwa trotoar tersebut adalah bagian dari proyek penataan Kali Cabang Tengah tahap pertama yang dikerjakan pada tahun 2023, dengan total anggaran Rp 9,7 miliar. "Perbaikan trotoar yang longsor dijadwalkan berlangsung pada Agustus [tahun ini] menggunakan dana BTT lebih dari Rp 1 miliar," kata Yodi, seperti dikutip dari situs Pemkot Depok, Selasa (4/8). Yodi menambahkan, longsor terjadi karena material turap menutupi aliran Kali Cabang Tengah, yang harus segera ditangani untuk menghindari dampak lebih luas. Titik longsor diperkirakan sepanjang 60 meter dengan tinggi 3 meter. Saat ini, DPUPR Depok tengah menyelesaikan tahapan administrasi agar pekerjaan dapat segera dimulai sesuai jadwal.
Wali Kota Depok, Supian Suri, juga angkat bicara mengenai keterlambatan respons Pemkot. Ia menjelaskan bahwa perbaikan tidak bisa langsung dilakukan karena harus melalui mekanisme penganggaran khusus. "Jadi pertama saya sampaikan ini sudah dalam proses kita gunakan dana BTT (belanja tidak terduga). Mohon maaf kalau mungkin banyak informasi dianggap tidak langsung merespons karena memang mekanisme penganggaran tetap tidak harus bisa langsung merespons," ujar Supian kepada wartawan, Selasa (4/8). Ia memastikan bahwa dana untuk perbaikan tidak masuk dalam APBD murni tahun ini karena musibah ini tidak terduga, sehingga harus melalui mekanisme BTT. "Insyaallah dalam waktu dekat di awal Agustus ini sudah dilakukan perbaikan," ungkapnya.
Kondisi trotoar yang cepat rusak ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat dan memicu pertanyaan tentang efektivitas pengawasan proyek. Hendra, warga setempat, menekankan pentingnya pengawasan tidak hanya pada anggaran, tetapi juga pada kualitas bahan konstruksi. "Ya percuma sih kalau diperbaiki tanpa pengawasan. (Pengawasan) anggaran dan bahan konstruksinya. Ini belum ada setahun loh. Ya banget (bahaya). Ini terutama karena di pinggir jalan ya, takutnya kan ambles ke bawah, nanti malah pengguna jalan yang memakan korban," tegasnya.
Meskipun perbaikan dijanjikan segera, insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan standar kualitas dan pengawasan proyek infrastruktur. Diharapkan perbaikan yang dilakukan tidak hanya bersifat tambal sulam, melainkan mampu menjamin ketahanan dan keamanan fasilitas publik dalam jangka panjang, demi kenyamanan dan keselamatan warga Depok.
