Internationalmedia.co.id – News – Sebuah langkah progresif dalam memperjuangkan kesetaraan bagi penyandang disabilitas mental-psikososial baru saja terwujud. Komisi Nasional Disabilitas (KND) secara resmi meluncurkan buku berjudul "Fikih Penguatan Disabilitas Psikososial dari Pemahaman Keagamaan Menuju Kesamaan Hak dan Keadilan Sosial". Acara peluncuran yang berlangsung di Teras Gubuk Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, ini menjadi bagian penting dari rangkaian Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, didapuk untuk meresmikan peluncuran buku tersebut. Dalam sambutannya, Gus Ipul menegaskan bahwa karya ilmiah-keagamaan ini bukan sekadar terbitan biasa. Ia menyebutnya sebagai fondasi moral, rujukan sosial, dan instrumen penting untuk mentransformasi cara berpikir masyarakat. Tujuannya adalah agar penyandang disabilitas mental-psikososial dipahami bukan sebagai beban, melainkan individu yang memiliki martabat dan harkat yang setara, dengan hak-hak yang melekat secara inheren, sebagaimana ditegaskan oleh konstitusi, ajaran agama, dan prinsip kemanusiaan universal.

"Dengan ini, buku Fikih Penguatan Disabilitas Mental Psikososial dari Pemahaman Keagamaan Menuju Kesamaan Hak dan Keadilan Sosial, yang diterbitkan melalui kolaborasi LBM NU, Lakpesdam NU, P3M, dan pusat rehabilitasi YAKKUM di bawah koordinasi KND, secara resmi saya luncurkan," ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis, seraya mengajak hadirin membaca Al-Fatihah.
Jonna Aman Damanik, salah seorang Komisioner KND, dalam pidatonya menyoroti akar permasalahan terbesar yang dihadapi penyandang disabilitas: paradigma masyarakat umum. "Di situ ada hegemoni normalitas," ungkap Jonna, yang juga seorang penyandang disabilitas netra. Ia menjelaskan bahwa masyarakat seringkali melihat dunia dan prioritas dari sudut pandang "normal" mereka, tanpa memahami perspektif berbeda. Solusi yang ditawarkan adalah mentransformasi paradigma tersebut, salah satunya melalui pendekatan ajaran keagamaan yang lebih inklusif. "Saya begitu bersemangat bersama teman-teman untuk mengawalnya. Kita berharap paradigma kita akan tepat," imbuhnya.
Gus Kautsar, pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso yang menjadi tuan rumah acara, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan. Ia menilai buku ini menggambarkan secara lugas realitas sosial serta menawarkan panduan berharga dalam berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Mental Psikososial (PDMP). "Seringkali, kesalahan fatal namun sederhana terletak pada kesulitan kita menerima perbedaan, baik fisik maupun mental," kata Gus Kautsar.
Ia menjelaskan bahwa kecenderungan manusia untuk mencintai keindahan dan diri sendiri adalah hal yang wajar. Namun, hal itu menjadi keliru jika sampai mengesampingkan atau menganggap orang lain tidak istimewa karena perbedaan mereka. "Perasaan itu penting, tapi kemudian kalau sampai mengakibatkan orang lain tidak bagus, tidak istimewa itu salah," ingatnya. Menutup sambutannya, Gus Kautsar kembali menyampaikan apresiasi kepada KND atas upaya tak kenal lelah dalam memperjuangkan inklusivitas bagi para penyandang disabilitas.
Peluncuran buku ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya Staf Khusus Menteri Sosial Ishaq Zubaedi Raqib, Katib Syuriah PBNU Dr. Hilmy Muhammad, M.A, Komisioner KND Fatimah Asri Mutmainah dan Kikin Tarigan, Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif Ghofur, serta Ketua LBM NU PBNU KH Mahbub Maafi. Kehadiran mereka menegaskan komitmen kolektif dalam mendukung terciptanya masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua.
