Cilacap – Sebuah pemandangan tak biasa tersaji di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dalam kunjungan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto. Bukan hanya menyaksikan panen udang Vaname yang melimpah, Titiek juga berinteraksi langsung dengan para narapidana (napi) yang kini aktif mengelola tambak tersebut. Program ketahanan pangan ini mengubah wajah pulau penjara, memberikan harapan dan kesibukan bagi para warga binaan. Internationalmedia.co.id – News
Dalam dialognya di Kawasan Bantar Panjang, Titiek Soeharto melontarkan pertanyaan yang menggugah, "Yang mengerjakan ini warga binaan nih, mas-mas ini. Biasanya kalau di dalam ngapain saja sebelum ada program ini?" Jawaban polos dari salah seorang napi, "Nggak ngapa-ngapain," menjadi cerminan kondisi sebelumnya yang monoton.

Kebahagiaan terpancar dari wajah para napi saat Titiek menanyakan, "Sekarang ada kayak gini, ada kesibukan, senang tidak?" Mereka serentak menjawab, "Senang, Bu." Lebih dari sekadar kesibukan, program ini juga memberikan insentif finansial. Setiap napi yang terlibat mendapatkan premi sebesar Rp 25 ribu per hari, atau setara Rp 750 ribu per bulan. "Alhamdulillah, di samping sibuk, nanti dapat preminya kan? Lumayan," ujar Titiek. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, menambahkan bahwa akan ada bonus tambahan jika produksi udang berhasil melampaui target, semakin memotivasi para pekerja.
(Foto: Audrey Santoso/internationalmedia.co.id)
Budidaya udang Vaname ini bukanlah proyek kecil. Di Kawasan Bantar Panjang saja, lahan seluas 20 hektare telah diubah menjadi 20 kolam aktif yang menampung hingga 11 juta benur. Tak hanya itu, di Kawasan Pasir Putih, 20 hektare lahan lainnya juga dimanfaatkan dengan 14 kolam. Sejak awal tahun 2025, Nusakambangan telah mencatat panen impresif sebesar 165 ton udang Vaname hanya pada siklus pertama.
Transformasi Nusakambangan menjadi pusat produktivitas ini merupakan gagasan visioner Menteri Agus Andrianto, yang dicanangkan tak lama setelah pelantikannya oleh Presiden Prabowo. Berawal dari laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyoroti banyaknya aset milik Kemenimipas berstatus ‘lahan tidur’ atau idle, Menteri Agus bertekad menghidupkan kembali potensi tersebut. Tujuannya jelas: membangun Balai Latihan Kerja (BLK) komprehensif agar para napi memiliki kegiatan pengembangan diri dan bekal keterampilan yang berharga. Harapannya, saat bebas nanti, mereka tidak lagi terjerumus pada tindak kejahatan.
Selain budidaya udang, berbagai prasarana pelatihan dan pengembangan keterampilan lain juga telah berdiri kokoh di Nusakambangan. Mulai dari workshop produksi batako dan paving block berbahan dasar material fly ash bottom ash (FABA), BLK konveksi, pengolahan pupuk organik, budidaya ikan Sidat, hingga pengelolaan sampah. Tak berhenti di situ, budidaya ikan Nila, Lele, Bawal, peternakan sapi, domba, unggas, BLK pelintingan rokok, produksi Mocaf, bahkan budidaya anggrek, semuanya turut dikembangkan. Semua ini adalah bagian dari upaya menyeluruh untuk mengubah Nusakambangan, dari sekadar pulau penjara menjadi pusat rehabilitasi dan produktivitas yang menginspirasi.
