Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden perkelahian antara dua siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi sorotan publik setelah video kejadiannya viral. Diduga kuat dipicu oleh saling ejek di aplikasi TikTok, duel fisik ini melibatkan siswi berinisial NA (15) dan PL (15), yang terjadi di Lapangan Laskar Napabalano, Kecamatan Napabalano, pada Kamis (11/6) siang.
Menurut keterangan dari Kasi Humas Polres Muna, Iptu Muhammad Jufri, insiden ini bermula ketika NA mendatangi PL yang kala itu tengah menjaga warung orang tuanya. NA kemudian secara langsung mengajak PL untuk menyelesaikan perselisihan pribadi mereka melalui duel di lapangan sepak bola tersebut, sebuah ajakan yang disepakati oleh keduanya.

Rekaman video yang berhasil diakses oleh internationalmedia.co.id menunjukkan momen perkelahian tersebut berlangsung di pinggir lapangan, bahkan di bawah guyuran hujan. Kedua remaja putri itu tampak saling jambak rambut hingga beberapa kali terjatuh ke tanah. Mirisnya, di sekitar mereka terdengar sorakan dan dukungan dari teman-teman yang menyaksikan, alih-alih melerai.
Seorang warga setempat berinisial A, yang enggan disebutkan nama lengkapnya, membenarkan bahwa pemicu utama perkelahian ini adalah saling ejek di platform TikTok. "Awalnya mereka ini baku ejek di TikTok, lalu janjian berkelahi di lapangan. Ini mereka masih sekolah SMP dua-duanya," ujar A, mengonfirmasi bahwa kedua siswi tersebut masih duduk di bangku SMP.
Menyikapi insiden ini, pihak kepolisian, melalui Kasi Humas Polres Muna Iptu Muhammad Jufri, segera mengambil tindakan. Kedua siswi, NA dan PL, beserta orang tua masing-masing dipanggil untuk mediasi. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. "Dalam pertemuan, NA dan PL saling memaafkan serta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa," terang Jufri, menegaskan komitmen mereka untuk tidak mengulangi tindakan serupa di kemudian hari.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan media sosial di kalangan remaja, serta perlunya edukasi mengenai penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
