Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Marinir Amerika Serikat mencegat dan menggeledah sebuah kapal tanker minyak berbendera Iran. Insiden yang terjadi baru-baru ini ini, berujung pada pelepasan kapal namun dengan perintah tegas untuk mengubah haluan, menambah daftar panjang eskalasi antara Washington dan Teheran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 (MEU) menaiki kapal M/T Celestial Sea. Kapal tanker tersebut diduga melanggar blokade yang diberlakukan AS bulan lalu, saat dalam perjalanan menuju pelabuhan Iran. CENTCOM menambahkan bahwa insiden ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan militer AS yang telah mengalihkan total 91 kapal demi memastikan kepatuhan terhadap sanksi. "Pasukan Amerika melepaskan kapal tersebut setelah melakukan penggeledahan dan mengarahkan awak kapal untuk mengubah haluan," demikian pernyataan CENTCOM, seperti dilansir Al Arabiya.

Insiden ini terjadi di tengah kebuntuan diplomatik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara adidaya tersebut belum juga mencapai kesepakatan damai, dan justru terus saling melontarkan ancaman yang memperkeruh suasana di kawasan.
Kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala penuh semakin nyata dengan pernyataan dari Israel. Kepala Angkatan Darat Israel, Letnan Kolonel Eyal Zamir, menegaskan bahwa militer mereka, IDF, kini berada pada tingkat siaga tertinggi. "Saat ini, IDF berada pada tingkat siaga tertinggi dan siap untuk setiap perkembangan," ujar Zamir dalam pertemuan komandan divisi, menunjukkan kesiapan Israel menghadapi potensi eskalasi.
Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka mengancam bahwa jika agresi terhadap Republik Islam itu berlanjut, konflik di Timur Tengah tidak hanya akan terbatas di kawasan, melainkan akan meluas jauh ke luar. "Serangan dahsyat kami akan menghancurkan Anda," demikian pernyataan IRGC melalui situs Sepah News, menggarisbawahi potensi konsekuensi yang mengerikan.
Peringatan dari Teheran ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Washington tidak akan ragu untuk menyerang Iran lagi jika kesepakatan damai tidak tercapai dalam beberapa hari mendatang. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April setelah pecahnya perang pada 28 Februari, kedua belah pihak terus meningkatkan retorika ancaman sambil berupaya menukar proposal untuk mengakhiri konflik.