Sebuah insiden menegangkan terjadi di perairan Laut Arab pada Rabu (29/4/2026) ketika pasukan Marinir Amerika Serikat melakukan pencegatan terhadap sebuah kapal komersial. Kapal tersebut, yang diidentifikasi sebagai M/V Blue Star III, dicurigai kuat berlayar menuju pelabuhan Iran, berpotensi melanggar blokade maritim yang diterapkan AS. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari respons Washington terhadap penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran.
Menurut keterangan dari Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, kapal M/V Blue Star III akhirnya dibebaskan setelah proses penggeledahan menyeluruh. Pihak berwenang AS memastikan bahwa rute pelayaran kapal tersebut tidak mencakup persinggahan di pelabuhan-pelabuhan Iran, sehingga kapal diizinkan melanjutkan perjalanannya.

Dalam pernyataan resminya melalui platform media sosial X, CENTCOM menegaskan komitmen pasukan Amerika untuk terus beroperasi dan menegakkan blokade di seluruh kawasan Timur Tengah. Hingga saat ini, tercatat 39 kapal telah dialihkan dari jalur semula guna memastikan kepatuhan terhadap aturan tersebut. CENTCOM juga merilis rekaman video yang memperlihatkan momen dramatis ketika sebuah helikopter melayang di atas kapal, sementara sejumlah personel Marinir AS dengan sigap turun menggunakan tali ke atas tumpukan kontainer di dek kapal.
Latar belakang ketegangan ini bermula setelah militer Iran secara efektif menutup jalur perairan strategis Selat Hormuz. Penutupan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas global tersebut terjadi menyusul serangkaian serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Menanggapi langkah Iran, Amerika Serikat mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan ini mulai diberlakukan pada 13 April, setelah serangkaian perundingan damai yang digelar di Pakistan gagal mencapai titik terang atau terobosan signifikan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada awal bulan ini telah menyampaikan kepada awak media bahwa blokade maritim ini akan dipertahankan "selama mungkin diperlukan". Senada dengan Hegseth, Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, secara tegas menyatakan bahwa blokade tersebut "berlaku untuk semua kapal, tanpa memandang asal negara, baik yang berangkat dari atau yang menuju pelabuhan Iran".
