Sebuah serangan bom mematikan mengguncang wilayah barat daya Kolombia akhir pekan lalu, menewaskan tujuh warga sipil dan melukai lebih dari 20 lainnya. Insiden tragis ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi menjelang pemilihan presiden bulan depan, memicu kekhawatiran serius akan stabilitas negara. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa ledakan dahsyat tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik.
Gubernur Cauca, Octavio Guzman, mengonfirmasi peristiwa nahas ini melalui akun X-nya. Ia menyatakan bahwa "sebuah perangkat peledak diledakkan" di sebuah jalan, menyebabkan "tujuh warga sipil tewas dan lebih dari 20 orang mengalami luka serius". Guzman juga menyertakan video mengerikan yang memperlihatkan korban tergeletak di lokasi kejadian serta kendaraan-kendaraan yang hancur akibat dahsyatnya ledakan.

Rekaman lain yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan parah dan kawah besar di badan jalan, menjadi saksi bisu kekuatan ledakan. Sejumlah saksi mata menggambarkan betapa kuatnya ledakan tersebut, hingga membuat mereka terpental beberapa meter dari lokasi. Serangan ini bukanlah insiden tunggal; sejak Jumat sebelumnya, beberapa serangan serupa telah dilaporkan di berbagai wilayah Kolombia, menandakan gelombang kekerasan yang terkoordinasi.
Otoritas setempat dengan cepat menuding kelompok pembangkang dari mantan gerilyawan FARC sebagai dalang di balik serangkaian kekerasan ini. Sisa-sisa kelompok FARC yang menolak perjanjian damai dengan pemerintah pada tahun 2016 masih aktif dan diyakini berupaya mengganggu proses perundingan damai yang saat ini terhenti dengan Presiden Gustavo Petro, yang dikenal berhaluan kiri. Mereka disinyalir ingin menciptakan kekacauan dan menunjukkan kekuatan mereka di tengah dinamika politik yang memanas.
Sebelumnya, pada Jumat (24/4), sebuah serangan bom di pangkalan militer di Cali juga melukai dua orang. Gelombang kekerasan ini secara signifikan meningkatkan ketegangan menjelang pemilihan presiden pada 31 Mei, di mana isu keamanan menjadi salah satu fokus utama perdebatan publik dan kampanye para kandidat.
Dalam jajak pendapat terbaru, Senator sayap kiri Ivan Cepeda, yang dikenal sebagai arsitek kebijakan kontroversial Presiden Petro dalam bernegosiasi dengan kelompok bersenjata, saat ini memimpin. Ia diikuti ketat oleh kandidat sayap kanan Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia, menunjukkan polarisasi politik yang kuat di negara tersebut.
