Sebuah laporan mengejutkan datang dari Seoul. Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah mengurangi sebagian aliran informasi intelijen berbasis satelit mengenai program nuklir Korea Utara (Korut) kepada sekutunya, Korea Selatan (Korsel). Langkah pembatasan ini dipicu oleh pernyataan seorang menteri Korsel yang dianggap Washington telah membocorkan data sensitif. Internationalmedia.co.id – News
Kontroversi bermula dari komentar Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong Young, di hadapan parlemen bulan lalu. Chung secara terbuka menyatakan dugaan adanya fasilitas pengayaan uranium di Kusong, sebuah wilayah di barat laut Korea Utara. Fasilitas pengayaan uranium sendiri merupakan elemen krusial dalam pengembangan senjata nuklir.

Washington, melalui saluran diplomatik, segera melayangkan protes keras. Mereka menuding pernyataan Chung telah mengungkap informasi intelijen yang sangat sensitif milik AS tanpa otorisasi. Akibatnya, seperti dilaporkan oleh kantor berita Yonhap dan sejumlah media lokal, AS kini ‘membatasi’ akses Seoul terhadap beberapa data satelit penting terkait Korut yang sebelumnya dibagikan secara reguler.
Seorang pejabat militer Korsel yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengonfirmasi kepada Yonhap bahwa pembatasan ini telah berlaku sejak awal bulan. Namun, ia menegaskan bahwa langkah tersebut "tidak berdampak signifikan terhadap kesiapan militer" Korsel. "Proses pengumpulan dan pertukaran intelijen mengenai aktivitas militer Korea Utara tetap berjalan normal antara kedua negara, seperti biasa," tambahnya.
Baik Kementerian Unifikasi maupun Kementerian Pertahanan Korea Selatan memilih bungkam terkait laporan pembatasan ini. Sementara itu, Pentagon di Washington juga belum memberikan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi atau menyangkal laporan tersebut.
Sebagai informasi, Korea Utara memang telah diketahui memiliki fasilitas pengayaan uranium di Yongbyon, di bagian utara negara itu, serta di Kangson, yang berlokasi dekat ibu kota Pyongyang.
Menteri Chung sendiri menghadapi tekanan dari partai oposisi yang mengkhawatirkan dampak komentarnya terhadap hubungan bilateral Korsel-AS. Ia membela diri pada Senin (20/4), menyatakan bahwa informasi mengenai Kusong "sangat disesalkan" jika dianggap rahasia, sebab telah tersedia untuk publik dan bahkan pernah dibahas dalam sidang konfirmasi jabatannya pada Juli sebelumnya.
Presiden Korsel Lee Jae Myung turut pasang badan membela Chung. Ia menegaskan bahwa "fakta keberadaan" fasilitas Kusong sudah menjadi pengetahuan umum, banyak dibahas dalam makalah akademis dan laporan media. "Setiap klaim atau tindakan yang berasumsi Menteri Chung membocorkan informasi rahasia dari Amerika Serikat adalah keliru," tegas Presiden Lee melalui platform media sosial X.
Sebagai bagian dari aliansi pertahanan, AS menempatkan sekitar 28.500 personel militernya di Korea Selatan untuk membantu menangkal ancaman dari Korut. Washington secara rutin mengumpulkan intelijen vital melalui satelit, penyadapan elektronik, dan berbagai metode lain, yang kemudian dibagikan kepada Seoul sebagai bagian dari kerja sama keamanan.
Insiden ini menyoroti betapa sensitifnya informasi terkait program nuklir Korut dan potensi dampaknya terhadap hubungan diplomatik antar sekutu.
