Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan mengklaim bahwa AS dan Iran akan menandatangani kesepakatan damai pada hari ini di Islamabad, Pakistan. Pernyataan bombastis ini disampaikan Trump kepada reporter Fox News, Maria Bartiromo, dalam sebuah wawancara telepon yang belum diketahui kapan persisnya berlangsung. Klaim ini segera memicu gelombang spekulasi di tengah ketegangan yang masih membara antara kedua negara. Internationalmedia.co.id – News melaporkan perkembangan terkini dari klaim yang belum terkonfirmasi ini.
Klaim Trump ini bukan tanpa latar belakang ancaman serius. Sebelumnya, ia pernah memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, ia tidak akan ragu untuk "meledakkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran." Ancaman tersebut kini berhadapan dengan janji damai yang tiba-tiba, menciptakan kontras yang tajam dalam retorika Washington.

Namun, respons dari Teheran jauh dari kata konfirmasi. Hingga saat ini, Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang membenarkan klaim tersebut atau mengumumkan rencana pengiriman delegasi ke Islamabad. Sumber-sumber Pakistan yang berbicara kepada New York Post mengindikasikan bahwa Teheran "bersedia untuk putaran kedua" negosiasi, namun menegaskan bahwa "belum ada keputusan yang diambil mengenainya," menunjukkan keraguan yang signifikan di pihak Iran.
Media pemerintah Iran, seperti stasiun penyiaran IRIB, pada Minggu (19/4) mengutip sumber-sumber internal yang menyatakan "saat ini tidak ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran pembicaraan Iran-AS berikutnya." Kantor berita Fars dan Tasnim juga melaporkan dari sumber anonim bahwa "suasana keseluruhan tidak dapat dinilai sangat positif," dengan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran disebut-sebut sebagai prasyarat mutlak untuk negosiasi yang berarti.
Sementara itu, Washington telah bergerak cepat. Pada Minggu (19/4), Trump mengumumkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance, bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, akan melakukan perjalanan ke Islamabad. Mereka ditugaskan sebagai delegasi AS untuk putaran negosiasi baru dengan Iran, menunjukkan keseriusan AS dalam upaya diplomatik ini, terlepas dari ketidakpastian respons Iran.
Pakistan sendiri telah menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi langsung pertama antara AS dan Iran pada 11-12 April lalu. Momen tersebut menjadi kontak diplomatik pertama sejak kedua negara memutuskan hubungan pada tahun 1979, namun pembicaraan tersebut berakhir tanpa terobosan yang berarti.
Blokade AS yang terus-menerus terhadap pelabuhan Iran menjadi titik permasalahan yang signifikan dan terus memperumit situasi. Ketegangan semakin meningkat dengan pengumuman Trump pada Minggu (19/4) bahwa sebuah kapal perusak Amerika telah menembak dan mengenai kapal Iran yang mencoba menghindarinya. Insiden ini menambah lapisan kompleksitas di tengah upaya diplomatik yang rapuh.
Dengan adanya blokade dan "tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak realistis" dari Washington, seperti yang diungkapkan oleh IRNA yang dikelola pemerintah Iran, prospek negosiasi yang bermanfaat masih sangat buram. Dunia kini menanti, apakah klaim berani Trump akan menjadi kenyataan, atau hanya menambah daftar panjang ketidakpastian dalam hubungan AS-Iran yang penuh gejolak.
