Internationalmedia.co.id – News melaporkan, sebuah perkembangan signifikan terjadi di perbatasan utara Israel. Militer Israel dilaporkan telah menetapkan sebuah ‘garis kuning’ sebagai demarkasi baru di wilayah Lebanon selatan. Langkah ini segera memicu perbandingan dengan situasi yang terjadi di Jalur Gaza, di mana garis serupa telah memisahkan area kendali militer Israel dari wilayah yang masih dikuasai Hamas.
Menurut laporan dari Al-Jazeera, penetapan garis ini bukan tanpa insiden. Israel mengklaim telah melancarkan serangan terhadap militan Hizbullah yang diduga mendekati posisi pasukan mereka di sepanjang garis demarkasi tersebut. Klaim ini muncul di tengah gencatan senjata yang diberlakukan, menambah ketegangan di wilayah tersebut.

Pihak militer Israel mengonfirmasi insiden tersebut, menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, pasukan mereka yang ditempatkan di selatan ‘Garis Kuning’ di Lebanon selatan telah mengidentifikasi ‘teroris’ yang melanggar kesepakatan gencatan senjata. Mereka disebut mendekati posisi pasukan Israel dari utara garis tersebut, yang dinilai menimbulkan ancaman langsung.
Sebagai respons cepat untuk menetralkan ancaman yang dirasakan, pasukan Israel segera melancarkan serangan di beberapa area di Lebanon selatan, menargetkan individu-individu yang diidentifikasi tersebut.
Konsep ‘garis kuning’ ini bukan hal baru dalam strategi militer Israel. Sejak diberlakukannya gencatan senjata di Gaza pada 10 Oktober, wilayah Palestina tersebut telah terbagi oleh demarkasi serupa. Garis ini berfungsi sebagai batas de facto yang secara efektif memisahkan Jalur Gaza menjadi dua zona: satu di bawah kendali militer Israel, dan satu lagi yang masih berada di bawah pengaruh dan kendali Hamas. Kini, model serupa tampaknya diterapkan di perbatasan Lebanon, menandai perubahan signifikan dalam dinamika keamanan regional.

