Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Damai Paskah Rusia Ukraina Hancur Dalam Hitungan Jam
Trending Indonesia

Damai Paskah Rusia Ukraina Hancur Dalam Hitungan Jam

GunawatiBy Gunawati15-04-2026 - 12.45Tidak ada komentar3 Mins Read0 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Damai Paskah Rusia Ukraina Hancur Dalam Hitungan Jam
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Sebuah harapan singkat akan kedamaian di tengah konflik Rusia-Ukraina pupus dalam hitungan jam. Kedua belah pihak awalnya menyepakati gencatan senjata selama 32 jam untuk peringatan Paskah Ortodoks, namun kesepakatan itu disebut langsung dilanggar. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Ukraina menuding Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangkaian pelanggaran.

Komando militer Ukraina melalui akun Facebook-nya merilis data mengejutkan: 469 pelanggaran gencatan senjata telah tercatat hanya dalam semalam Sabtu Paskah. Pelanggaran ini meliputi 22 aksi penyerangan musuh, 153 serangan penembakan, 19 serangan pesawat tak berawak, dan 275 serangan drone FPV. Secara keseluruhan, militer Ukraina mengklaim Rusia telah melancarkan 57 serangan udara, menjatuhkan 182 bom udara berpemandu, mengerahkan 3.928 drone, dan melakukan 2.454 serangan artileri di wilayah berpenduduk serta posisi pasukan mereka.

Damai Paskah Rusia Ukraina Hancur Dalam Hitungan Jam
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Namun, tudingan pelanggaran tak hanya datang dari Kyiv. Di wilayah Kursk, Rusia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina, Gubernur Alexander Khinshtein juga menuduh Kyiv melanggar gencatan senjata. Ia mengklaim drone Ukraina menyerang sebuah SPBU di kota Lgov, melukai tiga orang termasuk seorang bayi.

Gencatan senjata yang seharusnya berlaku selama 32 jam, dimulai pukul 16.00 waktu setempat pada Sabtu (11/4) hingga akhir hari Minggu (12/4), merupakan perintah Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis lalu, menyusul usulan awal dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam pidatonya Sabtu malam, Zelensky kembali menyerukan gencatan senjata yang lebih panjang. "Jika Rusia sekali lagi memilih perang daripada perdamaian, ini akan sekali lagi menunjukkan kepada dunia, dan kepada Amerika Serikat, siapa yang sebenarnya menginginkan apa," tegasnya.

Di Kharkiv, kota yang berdekatan dengan perbatasan Rusia dan kerap menjadi sasaran serangan harian, warga menunjukkan keraguan mendalam terhadap gencatan senjata ini. Oleg Polyskin (65) mengungkapkan, "Ini tidak akan berlangsung lama, hanya satu setengah hari, jadi mungkin akan bertahan. Tetapi bahkan jika Anda pergi ke gereja, tidak ada jaminan 100% bahwa semuanya akan damai. Anda tidak boleh mempercayai Putin dan pemerintahannya." Sentimen serupa diungkapkan Sofiia Liapina (16), "Akan menyenangkan jika tidak terjadi apa pun malam ini dan tenang, tanpa peringatan serangan udara. Tetapi kita tidak bisa tahu, karena tetangga kita tidak bisa dipercaya." Keraguan ini bukan tanpa alasan. Beberapa jam sebelum gencatan senjata dijadwalkan dimulai, Rusia meluncurkan setidaknya 160 drone ke Ukraina, menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya. Di sisi lain, gelombang drone Ukraina memicu kebakaran di depot minyak dan merusak gedung apartemen di wilayah Krasnodar selatan Rusia.

Ini bukan kali pertama gencatan senjata Paskah Ortodoks diusahakan. Tahun lalu, kedua belah pihak juga menyepakati hal serupa, namun berakhir dengan saling tuding ratusan pelanggaran. Meski ketegangan terkait gencatan senjata terus memanas, ada secercah harapan: kedua pihak yang bertikai berhasil menukar 175 tawanan perang pada hari Sabtu. Namun, di meja perundingan, kemajuan menuju kesepakatan damai masih jauh panggang dari api. Perundingan yang dipimpin AS telah terhenti dalam beberapa pekan terakhir, diperparah oleh konflik di Timur Tengah. Bahkan sebelum itu, perbedaan pendapat mengenai masalah wilayah menjadi batu sandungan utama. Ukraina mengusulkan pembekuan konflik di sepanjang garis depan saat ini, sementara Rusia menuntut Ukraina menyerahkan semua wilayah di Donetsk yang saat ini dikuasainya – sebuah tuntutan yang oleh Kyiv dianggap tidak dapat diterima.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Amerika Blokade Total Iran

15-04-2026 - 16.00

London Bergejolak 500 Ditangkap Polisi

15-04-2026 - 12.30

Gedung Putih Dituding Jadi Cabang Pelapor Israel

15-04-2026 - 12.15

Prioritas AS Bergeser Zelensky Mengeluh

15-04-2026 - 12.00

Babak Baru Hubungan Vietnam Vatikan

15-04-2026 - 10.45

Langkah Berani Pakistan Jet Tempur Mendarat di Saudi

15-04-2026 - 10.30
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.