Situasi di pusat kota London memanas akhir pekan lalu ketika Kepolisian Metropolitan melakukan penangkapan massal terhadap lebih dari 500 individu dalam sebuah demonstrasi yang menentang larangan terhadap kelompok Palestine Action. Penangkapan ini dilakukan atas dasar tuduhan dukungan terhadap organisasi yang telah dinyatakan terlarang. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan seputar isu Palestina di Inggris.
Ratusan pendemo, dengan rentang usia yang mencengangkan dari 18 hingga 87 tahun, berkumpul di Trafalgar Square. Mereka membawa berbagai plakat dan spanduk, banyak di antaranya secara terang-terangan menyatakan dukungan untuk Palestine Action dengan tulisan seperti ‘Saya menentang genosida. Saya mendukung Palestine Action’, yang juga telah terlihat dalam protes-protes sebelumnya. Aksi protes yang diberi nama ‘Everyone Day’ ini diorganisir oleh Defend our Juries, yang menegaskan bahwa acara tersebut merupakan manifestasi ‘perlawanan yang tak pernah surut terhadap larangan Palestine Action’. Para demonstran juga membawa plakat yang menyuarakan dukungan terhadap hak untuk berdemonstrasi dan menunjukkan penentangan mereka terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel.

Kontroversi seputar Palestine Action bermula pada Juli 2025, ketika pemerintah Inggris secara resmi melarang kelompok tersebut di bawah undang-undang anti-terorisme. Meskipun larangan tersebut sempat dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Tinggi pada Februari, statusnya tetap berlaku sambil menunggu proses banding.
Pasca putusan awal Pengadilan Tinggi, Kepolisian Metropolitan sempat mengindikasikan bahwa mereka kemungkinan tidak akan melakukan penangkapan terkait dukungan terhadap Palestine Action. Namun, pada bulan Maret, terjadi perubahan sikap yang drastis; kepolisian mengumumkan akan melanjutkan penangkapan terhadap demonstran yang menunjukkan dukungan kepada kelompok tersebut. Menjelang demonstrasi Sabtu lalu, Kepolisian Metropolitan telah mengeluarkan peringatan keras mengenai ‘pelanggaran pidana’ dan mendesak para calon peserta untuk merenungkan ‘konsekuensi potensial’ dari kehadiran mereka.
Komandan Claire Smart, yang memimpin operasi kepolisian di London akhir pekan ini, menegaskan kembali komitmen penegakan hukum. Dalam pernyataannya, ia memperingatkan, "Mereka yang hadir harus menyadari bahwa menunjukkan dukungan kepada organisasi terlarang merupakan pelanggaran berdasarkan Undang-Undang Terorisme, dan kami tidak akan ragu untuk bertindak jika hukum dilanggar." Insiden penangkapan massal ini menggarisbawahi ketegangan yang meningkat antara hak berdemonstrasi dan penegakan undang-undang anti-terorisme di Inggris, terutama dalam konteks konflik Israel-Palestina yang terus memanas.

